Berita Terbaru Indonesia, JAKARTA— Kebiasaan melakukan dosa dan pelanggaran dapat berujung pada penyimpangan dari agama.
Proses ini tidak terjadi secara instan, tetapi perlahan-lahan, hingga seseorang benar-benar meninggalkan agama.
- 2 Opsi Israel untuk Gencatan Senjata, Fraksi Perlawanan Tetap Bertahan di 3 Tuntutan
- Kepala Militer Israel Pilih Gencatan Senjata Dibandingkan Lanjutkan Perang Gaza, Ini Alasannya
- Pengakuan 5 Tentara Israel Ini Ungkap Kengerian Perang yang Mereka Alami di Gaza
Inilah alasan mengapa ada ungkapan dari generasi terdahulu yang berbunyi: “Dosa adalah pintu gerbang kekufuran”
Pernyataan ini bukan berarti setiap dosa itu sendiri adalah kekufuran. Dalam pandangan Ahlus Sunnah, melakukan dosa tidak mengeluarkan seseorang dari agama Allah SWT dan tidak menyebabkan kemurtadan.
Seperti yang disebutkan Imam ath-Thahawi dalam akidahnya, “Kami tidak mengkafirkan seseorang dari ahli kiblat karena suatu dosa kecuali dia pantas mendapatkannya.” Dosa tidak membahayakan keimanan seseorang.
Keyakinan Ahli Sunnah adalah bahwa melakukan dosa dan bertemu dengan Allah tanpa bertobat diancam dengan siksa dan azab akhirat, serta pengaruhnya terhadap keimanan adalah bertambah dan berkurangnya, bukan hilangnya keimanan seseorang.
Juga disepakati di kalangan ahli hakikat bahwa keteguhan hati dalam melakukan kemaksiatan dengan mengetahui bahwa itu adalah dosa tanpa adanya ampunan dan taubat tidak termasuk istihlal (atau peleburan).
Hal ini karena banyak pelaku maksiat yang dikuasai oleh hawa nafsunya dan tetap melakukan dosa meskipun mereka menyadari bahwa hal itu haram dan membencinya di dalam hati.
Bisa jadi di dalam hati orang tersebut terdapat kecintaan yang besar kepada Allah meskipun ia melakukan kemaksiatan.
Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab bahwa ada seorang laki-laki pada masa Nabi SAW bernama Abdullah yang sering membuat Rasulullah SAW tertawa, dan Nabi SAW sering mencambuknya karena minum-minuman keras. Suatu hari dia dibawa dan diperintahkan untuk dicambuk. “Semoga Allah melaknatnya, betapa seringnya dia dibawa kepadanya!” Nabi SAW bersabda, “Janganlah kalian melaknatnya, karena demi Allah, aku tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Seseorang bisa saja tertimpa dosa yang terus menerus dia lakukan, meskipun dia menyadari bahwa itu terlarang, berharap untuk meninggalkannya, dan sering berdoa kepada Allah SWT untuk mengampuni dan memaafkannya. Peringatan dari menekuni dosa itu bisa mengarahkannya kepada pembebasan.
