Mengenang dan Mengakhiri Nakbah 77
Proses migrasi bangsa Yahudi ke Palestina berlangsung perlahan dan hampir tanpa perlawanan, dengan harapan akan mendapatkan belas kasih. Bangsa Palestina tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang pernah teraniaya di Eropa akan menjadi penjajah bagi mereka. Ilan Pappe mencatat bahwa pada tahun 1944, kelompok zionis membentuk tim mata-mata untuk mempelajari masyarakat asli di desa Umm Al-Zinat. Mereka belajar bahasa Arab dan kebiasaan masyarakat setempat untuk mengidentifikasi lokasi strategis, termasuk masjid dan rumah kepala desa. Akibatnya, pada tahun 1948, desa tersebut lenyap, dan warga Palestina diusir.
Perjanjian Sykes-Picot 1916 dan Deklarasi Balfour 1917 menjadi momen penting dalam perjuangan Palestina. Ketika Herbert Samuel diangkat oleh kerajaan Inggris pada tahun 1920 sebagai pejabat Palestina, ia memudahkan migrasi Yahudi dan memaksa penjualan tanah Palestina kepada imigran Yahudi.
Revolusi Arab tahun 1936 menandai perlawanan rakyat Palestina terhadap kebijakan diskriminatif. Dipimpin oleh Syekh Izzudin Al-Qassam, mereka menentang Inggris yang memungkinkan penguasaan lahan oleh imigran Yahudi. Namun, penindasan berlanjut seperti yang terjadi di Umm Al-Zinat.
Selama 19 bulan terakhir, genosida oleh zionis di Jalur Gaza telah berlangsung. Tragedi ini tidak dimulai pada 7 Oktober 2023, tetapi jauh sebelumnya. Periode 1938-1948 adalah tahun-tahun paling berdarah bagi Palestina dengan 42 aksi teror oleh kelompok zionis seperti Irgun, Lehi, dan Palmach, yang menewaskan lebih dari seribu orang.
Salah satu peristiwa penting adalah pemboman Hotel King David pada 1946 oleh Irgun, menewaskan 92 orang. Menachem Begin, yang kemudian menjadi perdana menteri Israel, terlibat dalam aksi ini. Kelompok-kelompok teror ini kemudian menjadi bagian dari tentara pertahanan Israel.
Palestina telah berada di bawah penjajahan zionis selama 77 tahun. Tragedi yang terjadi telah dibaca dalam buku dan dilihat di media. Generasi keempat dan kelima Palestina hidup di pengungsian, namun tetap berharap untuk kembali ke tanah leluhur mereka.
Indonesia merdeka setelah 350 tahun penjajahan. 77 tahun setelah kedatangan Cornelis de Houtman, VOC bubar karena korupsi dan kekalahan dari Perancis. Harapan muncul dari perpecahan dan korupsi kolonial kala itu. Perlawanan belum muncul secara kolektif sebagai bangsa.
Harapan serupa kini ada di Palestina. Bersatunya faksi, etika perang Hamas, tekanan internasional, dan penetapan Israel sebagai entitas apartheid oleh ICJ, adalah langkah menuju kemerdekaan. Kekejaman Israel saat ini menunjukkan kondisi yang rapuh. Dunia perlu memberi tekanan hingga Amerika Serikat menghentikan dukungan kepada Israel.
Harapan menuju kemerdekaan memiliki dasar kuat. Syekh Ahmad Yassin, dalam wawancara pada 1999, menyatakan bahwa Israel didirikan dengan ketidakadilan dan perampasan, dan entitas semacam itu akan hancur. Harapan ini harus didukung sepenuhnya.
Kita harus ingat dukungan Palestina untuk kemerdekaan Indonesia, seperti yang dilakukan Syekh Amin Al-Hussaini dan Muhammad Ali Taher. Kini saatnya kita mendukung Palestina dalam perjuangan mereka. Cukup sudah 77 tahun mengenang Nakbah. Mari kita bertekad untuk mendoakan, memboikot, dan terus mendukung upaya kemerdekaan Palestina. Kita tidak perlu menunggu hingga 2027, cukup hari ini, dan tidak perlu ada peringatan Nakbah yang ke-77 lagi.
