Menteri dan Kepala Daerah Diminta Serius Tangani Potensi Bambu Indonesia
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Adhyaksa Dault, pelindung dari organisasi Wanadri yang terdiri dari para penempuh hutan dan pendaki gunung, menekankan bahwa bambu perlu mendapatkan perhatian serius dari para penyelenggara negara, baik menteri maupun kepala daerah, karena fungsinya yang beragam, baik untuk kepentingan ekologis maupun ekonomi.
Adhyaksa menyampaikan pandangan ini sebagai tanggapan terhadap ide dari Utusan Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, yang mengusulkan agar Indonesia menjadi Pusat Pelatihan dan Pelestarian Bambu Dunia. Usulan ini muncul karena Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penghasil bambu dengan varietas terbanyak di dunia.
Menurut Adhyaksa, ide besar dari adik Presiden Prabowo ini harus diartikan secara luas. Di samping manfaat ekologis untuk memenuhi kebutuhan dunia akan iklim dan lingkungan yang sehat, juga terdapat potensi ekonomi yang bisa dikembangkan dalam industri bambu.
Adhyaksa mengungkapkan bahwa beberapa negara seperti Amerika Serikat, India, Jerman, dan bahkan China, menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap bambu Indonesia. “Ini adalah kabar baik yang harus kita manfaatkan dengan bijak sebagai peluang ekonomi yang besar. Kita berpotensi menjadi eksportir bambu dunia, terutama dengan kualitas yang sangat baik,” ujar mantan Menteri Pemuda dan Olahraga di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam siaran pers, Rabu (23/7/2025).
Walaupun Adhyaksa mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal teknologi dibandingkan negara lain seperti Jerman dan China, hal ini tidak menutup peluang untuk terus belajar.
“Fakta ini justru harus memacu semangat kita untuk lebih giat dalam mengembangkan teknologi industri bambu. Kita bisa belajar dari mereka,” kata Adhyaksa Dault. Sambil mempelajari teknologi tersebut, lanjutnya, Indonesia dapat mulai menyiapkan pasokan bambu yang melimpah melalui gerakan penanaman bambu secara nasional.
Berdasarkan data yang diperolehnya, menurut Adhyaksa, bahkan Jerman masih kekurangan pasokan bambu untuk berbagai jenis bahan baku, termasuk untuk pembangunan rumah dan vila bambu.
Adhyaksa menegaskan, tidak ada kerugian jika bangsa ini serentak melakukan gerakan menanam bambu. Setidaknya, bambu bermanfaat untuk kepentingan ekologis sebagai tanaman penghasil oksigen yang besar. Selain itu, bambu juga merupakan tanaman yang sangat efektif dalam menyerap air. “Ini jelas diperlukan dalam konteks isu dunia yang sedang menghadapi krisis iklim dan oksigen,” ungkapnya.
Dalam konteks inilah, gagasan Hashim Djojohadikusumo harus mendapatkan dukungan penuh dari seluruh penyelenggara negara, termasuk seluruh rakyat Indonesia. “Dengan demikian, di masa depan, bambu akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tidak hanya sekadar tanaman biasa yang selama ini identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan,” tegasnya.
