Asal Usul Haji Akbar Menurut Akademisi dan Ahli Alquran: Tidak Selalu di Hari Jumat
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Jamaah haji dari berbagai negara sudah mulai tiba di Arab Saudi. Mereka akan melaksanakan rukun Islam kelima pada 8-12 Dzulhijjah 1446 H.
Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa musim haji tahun ini kemungkinan besar akan menjadi momen Haji Akbar. Dalam konteks Haji Akbar, pelaksanaan ibadah rukun Islam kelima ini bertepatan dengan hari Jumat.
“Tahun ini kita bersyukur karena adalah Haji Akbar, Insya Allah puncak haji jatuh pada 6 Juni berdasarkan perhitungan (pada Jumat), berarti itu Haji Akbar, menurut ilmu hisab,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar saat pelaksanaan Manasik Haji Nasional di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (19/4/2025).
Apa sebenarnya asal usul istilah Haji Akbar ini? Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Aswadi, yang pernah menjadi Pelaksana Seksi Bimbingan dan Ibadah PPIH Arab Saudi 2022, menjelaskan bahwa momentum Haji Akbar dikenal dalam QS At-Taubah ayat 3.
“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS at-Taubah: 3).
Aswadi menjelaskan bahwa ayat tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan Rasulullah SAW untuk membersihkan Masjidil Haram dari kaum musyrikin usai Fathu Makkah pada tahun 8 Hijriyah. Setahun kemudian, beliau SAW menugaskan para sahabat agar kaum musyrikin tidak boleh lagi berhaji dengan tenggat waktu empat bulan. Rasulullah mengutus Abu Bakar As-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Hurairah untuk menjalankan misi tersebut.
“Misi utama pada tahun ke-9 Hijriah adalah membersihkan orang-orang syirik agar tidak boleh berhaji di tahun yang akan datang dan diberi waktu interval empat bulan,” ujarnya.
Prof Aswadi menjelaskan bahwa pada masa jahiliah, kaum musyrikin sering bertawaf dalam keadaan telanjang. Mereka juga masih melakukan praktik-praktik syirik di area Ka’bah. Perintah Allah SWT dalam QS at-Taubah ayat 3 ini membuat Rasulullah mengirim para sahabat untuk mengultimatum kaum musyrikin bahwa mereka tidak dapat lagi melakukan tawaf dengan telanjang.
“Haji tahun depan tidak diperkenankan bagi kaum musyrikin, apalagi melakukan tawaf dalam kondisi telanjang. Karena inilah kemudian disebut Haji Akbar,” jelasnya.
