WASHINGTON – Pergeseran Pandangan Sayap Kanan Amerika terhadap Israel
BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON – Tindakan keras Israel di wilayah pendudukannya tampaknya telah sampai ke telinga kelompok sayap kanan di Amerika Serikat. Dukungan panjang mereka terhadap negara Zionis ini perlahan berkurang dan berubah menjadi kritik tajam akhir-akhir ini.
Baru-baru ini, jaringan berita konservatif One America News Network menayangkan segmen tentang pembunuhan seorang warga Amerika keturunan Palestina, Saif Musallet, oleh pemukim Israel di Tepi Barat minggu lalu. Keputusan jaringan ini untuk menyoroti kejadian yang sebelumnya diabaikan oleh kalangan konservatif ini menunjukkan pergeseran di antara kelompok Partai Republik MAGA yang semakin kritis terhadap Israel.
Pembawa acara dalam segmen ini adalah mantan anggota kongres Florida, Matt Gaetz, yang sempat menjadi pilihan awal Presiden AS Donald Trump untuk posisi jaksa agung. Gaetz menarik pencalonannya di tengah skandal yang menimpanya. Dalam siaran tersebut, Gaetz merujuk Tepi Barat dengan nama Yudea dan Samaria seperti dalam Alkitab dan mengkritik perilaku pemukim Israel yang tinggal di sana.
“Ini sebenarnya bukan tragedi yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari pola serangan pemukim Israel terhadap komunitas Palestina yang meliputi pembakaran rumah, lahan pertanian, dan kehidupan, semua dilindungi oleh pasukan Israel yang didanai oleh pajak warga Amerika,” kata Gaetz.
“Yang lebih mengguncang adalah bahwa Israel jarang sekali meminta pertanggungjawaban para pelaku pembunuhan ini. Ada delapan kasus pembunuhan warga negara Amerika yang belum terpecahkan sejak tahun 2022.”
Kelompok sayap kanan Amerika Serikat, yang sebagian anggotanya merupakan penganut Kristen Evangelis, telah lama menjadi pendukung suara Israel. Perubahan sikap ini tampaknya terkait dengan pengkhianatan Trump terhadap prinsip ‘America First’ yang ia kampanyekan.
Trump berjanji bahwa ia akan mendahulukan kepentingan dalam negeri daripada melakukan intervensi ke negara lain. Namun, dukungan Trump yang tampaknya tidak terbatas terhadap Israel dianggap mulai merugikan warga Amerika.
Selain itu, setelah sekian lama mengabaikan tindakan destruktif Israel di Jalur Gaza, kelompok sayap kanan AS tampaknya semakin sulit menerima kenyataan bahwa Israel belakangan ini juga menyerang dan membahayakan komunitas Kristen di Palestina. Impunitas Israel dalam pembunuhan berulang terhadap warga AS keturunan Palestina juga menjadi sorotan.
