Nasib Chromebook Bantuan Kemendikbudristek
Oleh Muhammad Noor Alfian Choir
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA – Pengadaan hibah Chromebook yang diprakarsai Kemendikbudristek dari 2019 hingga 2023 kini dalam penyelidikan Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi. BERITA TERBARU INDONESIA mendatangi beberapa sekolah penerima bantuan itu dan menemukan penggunaannya tidak seperti yang diharapkan.
Laboratorium komputer di salah satu SMA negeri di Jakarta Timur terlihat sepi pada Selasa siang. Hampir tidak ada siswa yang beraktivitas di tempat tersebut. Namun, tempat ini menyimpan jejak ambisi besar pemerintah terkait digitalisasi pendidikan. Terlihat belasan unit Chromebook buatan lokal dengan merek Zyrex M432-2 tertata di sudut laboratorium. Perangkat-perangkat ini masih tersimpan rapi dalam kardusnya.
Perangkat ini awalnya diharapkan menjadi ujung tombak dalam wacana besar pemerintah mengenai digitalisasi pendidikan. Baru-baru ini, Kejaksaan Agung menyelidiki dugaan korupsi di Kemendikbudristek terkait pengadaan yang merupakan bagian dari program besar digitalisasi senilai Rp 9,9 triliun dari 2019 hingga 2023. Saat itu, Nadiem Makarim menjabat sebagai menteri pendidikan. Pihak di Kemendikbudristek diduga terlibat dalam persekongkolan pengadaan laptop Chromebook yang disebar ke berbagai sekolah di berbagai daerah. Peringatan bahwa perangkat tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan program digitalisasi pendidikan diabaikan.
Yang ditemukan oleh BERITA TERBARU INDONESIA di sekolah negeri di Jakarta Timur, mendukung temuan Pustekkom tentang rendahnya daya guna perangkat Chromebook tersebut. Seorang guru sekaligus penanggung jawab teknologi informasi (TI) di sekolah itu mengaku tidak ada yang tahu mengapa sekolahnya terpilih menerima bantuan tersebut. Pihak sekolah juga terkejut menerima bantuan tersebut. “Tidak ada proses pengajuan, tiba-tiba saja. Makanya kami kaget, kebanyakan yang dipanggil itu dari daerah-daerah, malah kami salah satu dari sedikit yang di Jakarta,” katanya.
Setelah terpilih, ada dua orang guru di sekolah tersebut yang mendapat pelatihan awal untuk program tersebut. Namun, dari tiga orang tim IT, dua di antaranya sudah mutasi atau keluar, menyisakan dirinya seorang. “Sebenarnya yang menerima pada waktu itu bukan saya, tapi teman saya kebetulan yang pertama ini sudah keluar duluan terus yang kedua ini yang waktu itu ikut pertemuannya,” katanya saat ditemui BERITA TERBARU INDONESIA, Selasa (3/6/2025). “Waktu itu kalau tidak salah dipanggil ke Karawang untuk sekolah-sekolahnya yang akan menerima atau calon penerima,” katanya.
Dalam pertemuan pada 2021 itu, sekolahnya mendapat jatah 15 unit Chromebook. Meski kondisinya masih terawat rapi, namun ia menyebut spesifikasi Chromebook tersebut terbatas. Sebagai guru, ia menyebut pengadaan Chromebook sebagai langkah digitalisasi pendidikan yang jauh dari harapan. Menurutnya, saat ini fungsi Chromebook sangat terbatas. Baik untuk desain visual atau pelajaran lainnya di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan sebagainya.
“Install aplikasi dibatasi, hanya bisa login menggunakan akun belajar.id, tidak sebebas install dari (Google) Play Store. Mau mengetik dan sebagainya tidak ada (Microsoft) Words, tidak ada apa-apa.” Menurutnya, daya guna Chromebook juga sangat terbatas. “Barangnya juga kecil, jatuhnya seperti netbook ya layarnya kecil banget,” katanya.
Ia menuturkan sejak awal mempertanyakan pilihan perangkat tersebut. “Chromebook itu saja sudah agak gimana ya?. Maksudnya hanya bisa dipakai kalau ada internet, kan beda dengan Windows. Pemilihan komputer itu adalah Chromebook itu saja sudah sempat bikin ‘ah ini dipakai buat apa?’.”
Guru yang merasa cukup memahami teknologi informasi mendapati dirinya kesulitan mengoperasikan Chromebook. Bagi guru-guru yang belum akrab dengan teknologi terkini, kesulitan ini menjadi berlipat. “Sistem shortcut-nya beda. Untuk mengajar saya sendiri saja menggunakan itu gagap, apalagi ke anak, apalagi ke guru-guru lain. Jadi memang sejujurnya tidak terlalu terpakai untuk operasional guru atau siswa.” Ia mengakui, ada Chromebook yang memiliki spesifikasi tinggi dan mumpuni. Namun, tidak demikian dengan yang didatangkan ke sekolahnya oleh Kemendikbudristek.
