Negara Muslim Ini Mengundang Pasukan Israel untuk Latihan Bersama, Umat Islam Geram
BERITA TERBARU INDONESIA, RABAT — Maroko adalah salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di Afrika. Meskipun demikian, peristiwa genosida di Jalur Gaza tidak menghentikan negara kerajaan ini untuk menjalin hubungan dengan Israel.
Robert Inlakesh, seorang jurnalis senior dari Palestine Chronicle, menyatakan bahwa Maroko tidak hanya terus berusaha memasok militer Israel, yang memicu protes dan pemogokan luas, tetapi Rabat bahkan mengundang tentara Israel yang terlibat dalam salah satu pembantaian paling terkenal terhadap pengemudi ambulans di Gaza untuk latihan gabungan.
- Tak Sembarangan untuk Jadi Sahabat Umar bin Khattab, Ada Lima Syarat yang Wajib Dipenuhi
- Jamaah Masih di Makkah, Oleh-olehnya Sudah Tiba di Rumah
- Timwas Temukan Kapasitas Tenda Berlebih di Mina, Seharusnya untuk 200 Diisi untuk 300 Orang
Pada periode 14 April-23 Mei, sekitar 40 negara turut serta dalam latihan militer Singa Afrika 2025. Serangkaian latihan ini melibatkan angkatan bersenjata Israel dan Maroko. Video yang beredar di internet menunjukkan Angkatan Bersenjata Kerajaan Maroko berlatih bersama pasukan darat Israel.
Diketahui bahwa militer Maroko sedang mengadakan latihan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam melakukan manuver terowongan bersama, menggunakan mesin tak berawak untuk menembus zona target. Ini mirip dengan jenis operasi yang telah dilakukan Israel di Jalur Gaza.
Skandal ini semakin memanas. Unit Israel yang diundang untuk berpartisipasi dalam latihan gabungan oleh pimpinan di Rabat adalah ‘Sayaret Golani’ dari Brigade Golani. Unit khusus ini terlibat dalam pembantaian yang disengaja dan memalukan terhadap 15 petugas medis Palestina, pekerja PBB, dan pengemudi ambulans hanya beberapa bulan sebelumnya.
Insiden ini memicu kemarahan dan kecaman internasional setelah video dan kesaksian saksi mata mengungkapkan tingkat kejahatan yang terlibat dalam pembantaian brutal tersebut.
Bukan hanya jenazah 15 warga Palestina yang dikuburkan di kuburan massal oleh Sayaret Golani, tetapi ambulans juga dihancurkan dan dikubur sebagai upaya untuk menutupi kejahatan perang yang nyata. Berdasarkan analisis audio dari video yang bocor terkait insiden tersebut, beberapa korban ditembak dari jarak dekat.
Detail ini, yang menjadi pengetahuan umum, dan fakta bahwa tidak ada seorang pun yang dihukum atas pembantaian tersebut, unit tersebut tetap diundang ke Agadir, Maroko, untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman dalam melaksanakan operasi tempur bawah tanah.
