Netanyahu Berbohong! Intelijen AS Sebut Iran Tidak Sedang Mengembangkan Bom Nuklir
WASHINGTON – Kebohongan fatal Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terbongkar. Intelijen AS membantah klaim bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, yang digunakan sebagai alasan Israel menyerang republik Islam itu pekan lalu.
BERITA TERBARU INDONESIA melaporkan pada hari Selasa bahwa penilaian intelijen AS menyajikan kesimpulan yang berbeda dengan tuduhan Israel. Iran tidak sedang aktif mengembangkan senjata nuklir dan masih membutuhkan waktu tiga tahun lagi untuk dapat memproduksi dan meluncurkan senjata nuklir ke target yang mereka inginkan, menurut empat sumber yang mengetahui penilaian tersebut.
- Putin-Xi Jinping Bicarakan Situasi Iran, Trump ke Ruang Perang Gedung Putih
- Hancurkan Markas Mossad, Iran Gunakan Rudal Canggih Baru tak Bisa Dideteksi Israel
- Iran-Saudi Solid Respons Agitasi Israel, Dubes RI: Faktor Penting Tentukan Eskalasi
Pejabat senior AS lainnya mengatakan kepada BERITA TERBARU INDONESIA bahwa Iran “sangat dekat sebelum benar-benar membuat senjata nuklir. Jika Iran menginginkannya, mereka memiliki segala yang diperlukan.” Setelah serangan udara Israel selama beberapa hari, pejabat intelijen AS yakin bahwa sejauh ini, Israel mungkin hanya menunda program nuklir Iran dalam hitungan bulan.
Meskipun Israel telah menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas Iran di Natanz, yang menampung sentrifugal yang dibutuhkan untuk memperkaya uranium, situs pengayaan kedua di Fordow yang dijaga ketat tetap tidak tersentuh. Israel tidak memiliki kemampuan untuk menghancurkan Fordow tanpa senjata khusus dan dukungan udara AS, kata para pakar pertahanan.
“Israel bisa saja melayang di atas fasilitas nuklir tersebut, membuatnya tidak dapat beroperasi, namun jika Anda benar-benar ingin menghancurkannya, yang dibutuhkan adalah serangan militer AS atau sebuah kesepakatan,” kata Brett McGurk, mantan diplomat tinggi Timur Tengah di bawah pemerintahan Trump dan Biden serta seorang analis BERITA TERBARU INDONESIA.
Hal ini menimbulkan dilema utama bagi pemerintahan Trump, yang sedang berusaha untuk menghindari keterlibatan dalam perang yang rumit dan mahal di Timur Tengah.
Meskipun Presiden Donald Trump telah menegaskan bahwa ia tidak ingin melibatkan AS dalam upaya Israel untuk menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, pemerintah mengakui bahwa satu-satunya cara Israel dapat menghentikan program nuklir Iran adalah dengan bantuan militer Amerika. Israel membutuhkan khususnya, bom AS yang mampu merusak fasilitas bawah tanah dan pesawat pengebom B-2 yang membawa senjata tersebut.
Israel telah mengatakan selama 20 tahun bahwa Iran berada di ambang pembuatan bom. Namun, menurut the Guardian, pada 25 Maret lalu Tulsi Gabbard, direktur intelijen nasional AS, menyatakan kepada komite intelijen Senat bahwa komunitas intelijen Amerika menilai bahwa Iran tidak secara aktif mengembangkan senjata nuklir.
Namun, Gabbard menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, tampaknya telah terjadi “kikisnya tabu yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Iran mengenai pembahasan senjata nuklir di depan umum, yang kemungkinan akan semakin menguatkan pendukung senjata nuklir dalam aparat pengambilan keputusan Iran”.
Dia menambahkan: “Stok uranium Iran yang diperkaya berada pada tingkat tertinggi dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi negara tanpa senjata nuklir.”
