Peran Orang Tua Sebagai Pengarah Anak dalam Penggunaan Gawai
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Orang tua diharapkan menjadi pengarah dalam penggunaan gawai oleh anak. Keluarga sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter anak harus terus beradaptasi. “Kita tidak hanya bersaing dengan waktu atau pekerjaan dalam mendampingi anak, tetapi juga dengan gawai. Orang tua tidak boleh hanya menjadi penonton, kita harus menjadi pengarah,” ujar Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Selasa (3/6/2025).
Pentingnya Kehadiran Emosional Orang Tua
Menurut Isyana, kehadiran emosional dari orang tua sangat penting dalam mendampingi perkembangan remaja, terutama di tengah arus digitalisasi yang deras. “Pertanyaannya, apakah kita sebagai orang tua masih menjadi tempat yang nyaman untuk pulang bagi anak-anak kita? Apakah kita hadir secara emosional, bukan hanya fisik?” ujarnya.
Dampak Media Sosial dan Permainan Daring
Isyana juga mengutip buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt, yang membahas dampak media sosial dan permainan daring terhadap kesehatan mental remaja. Remaja perempuan cenderung lebih rentan terhadap gangguan kecemasan dan citra tubuh karena konsumsi media sosial yang berlebihan.
“Sedangkan remaja laki-laki menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada permainan daring yang dapat mengganggu fokus dan kehidupan sosial mereka,” jelasnya.
Langkah Pemerintah dan Peran Orang Tua
Saat ini, kata Isyana, pemerintah telah menanggapi tantangan ini dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS), yang menekankan pentingnya literasi digital dan ruang digital yang aman bagi anak-anak.
Ia menekankan bahwa orang tua perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak untuk menghindari kecanduan gawai. “Saya percaya bahwa melalui keterbukaan, ketulusan, dan kolaborasi antargenerasi, kita dapat menciptakan rumah yang hangat. Bukan hanya tempat tinggal, melainkan tempat untuk pulang,” jelasnya.
Pentingnya Komunikasi Positif
Sementara itu, pakar ilmu keluarga dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Institut Pertanian Bogor, Yulina Eva Riany, menekankan pentingnya komunikasi positif antara orang tua dan remaja di tengah derasnya arus informasi era digital.
Ia mengutip teori perkembangan psikososial Erik Erikson, yang menjelaskan bahwa masa remaja terbagi dalam beberapa tahap. Mulai dari pra-remaja (usia 10–12 tahun), remaja awal (13–15 tahun), remaja madya (15–18 tahun), hingga remaja akhir (18–21 tahun).
Dalam setiap tahap ini, remaja menghadapi krisis dan tantangan yang berbeda, terutama pada tahap identity versus role confusion, ketika remaja mulai mempertanyakan jati diri mereka dan mencari arah hidup. “Remaja di usia ini tidak hanya ingin didengarkan, tetapi juga dihargai pendapatnya. Sering kali orang tua bingung, karena anak yang dulunya penurut, tiba-tiba berubah menjadi penuh perlawanan. Ini wajar karena mereka sedang mencari identitas diri,” kata Eva.
