Ahli Mengingatkan Tanda-Tanda Microsleep yang Sering Diabaikan Pengendara
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Tidur singkat atau microsleep adalah salah satu penyebab utama kecelakaan di jalan raya. Kondisi ini berbahaya karena terjadi secara mendadak dan seringkali tidak disadari oleh pengemudi, terutama ketika tubuh sedang lelah.
Menurut ahli Fisiologi dari Fakultas Kedokteran IPB University, dr Samuel Stemi, microsleep dapat terjadi selama satu hingga 30 detik dan seringkali muncul tanpa disengaja. Oleh karena itu, penting bagi pengemudi untuk mengenali tanda-tanda awal kelelahan yang ekstrem yang dapat memicu microsleep.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai termasuk mata terasa berat, kesulitan menjaga posisi kepala dan leher, perubahan posisi duduk menjadi membungkuk, hilangnya fokus pada percakapan, dan tidak mengingat kejadian satu atau dua menit sebelumnya. Bahkan dalam beberapa kasus, pengemudi dapat menjatuhkan barang tanpa menyadarinya.
“Jika gejala-gejala ini mulai dirasakan, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk terus mengemudi. Menepi dan tidur sejenak adalah langkah bijak demi keselamatan,” ujar dr Samuel dalam pernyataan tertulis, dikutip pada Ahad (13/7/2025).
Lebih lanjut, dr Samuel mengutip data dari American Automobile Association (AAA) Foundation for Traffic Safety yang melaporkan bahwa sekitar 328 ribu kecelakaan setiap tahun disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk, termasuk akibat microsleep. Dari jumlah tersebut, 109 ribu menyebabkan cedera dan 6.400 berakhir dengan kematian.
Dia juga menjelaskan bahwa mengemudi lebih dari 20 jam tanpa tidur sama berbahayanya dengan mengemudi dalam keadaan mabuk, yaitu dengan kadar alkohol dalam darah sebesar 0,08 persen. Dalam kondisi tersebut, kemampuan reaksi, penilaian, dan koordinasi tubuh terganggu secara signifikan.
Beberapa faktor utama penyebab microsleep meliputi kurang tidur, kualitas tidur yang buruk seperti pada penderita sleep apnea, aktivitas monoton seperti berkendara jauh di jalan lurus, konsumsi obat-obatan yang menyebabkan kantuk, serta konsumsi alkohol dan kelelahan fisik.
Untuk mencegahnya, pengemudi disarankan untuk tidur cukup minimal tujuh jam sebelum berkendara, menjaga kebugaran tubuh, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, merencanakan rute dan waktu istirahat, serta menghindari alkohol dan obat yang menimbulkan kantuk.
“Jika memungkinkan, ajak teman dalam perjalanan untuk bergantian mengemudi. Jangan lupa juga untuk minum air putih yang cukup, dan hindari kebosanan dengan mendengarkan musik atau podcast,” kata dr Samuel.
Sebagai tambahan, ia menyarankan agar pengemudi melakukan peregangan saat berhenti, menjaga pencahayaan yang cukup terutama ketika berkendara malam hari, menjaga jarak aman dengan kendaraan lain, serta menghindari cahaya berlebihan yang dapat melelahkan mata.
