Pakar Israel: Apakah Harga Tinggi Ini Harus Dibayar untuk Menguasai Bangsa yang Terisolasi?
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV— Penulis Israel Michael Milstein mengkritik fenomena yang ia sebut sebagai ‘fantasi Israel yang berulang’ di Jalur Gaza.
Ia memperingatkan bahwa Jalur Gaza telah menjadi tempat percobaan dalam bidang keamanan dan politik yang ditakdirkan untuk gagal, diulang-ulang tanpa adanya evaluasi nyata atau pembelajaran dari kesalahan sebelumnya.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh situs web Ynet dari surat kabar Ibrani Yedioth Ahronoth, Selasa (15/7/2025), Milstein mengatakan bahwa apa yang disebut oleh pemerintah Israel sebagai kota kemanusiaan, yang direncanakan untuk dibangun antara Khan Yunis dan Rafah, hanyalah versi baru dari proyek-proyek yang telah gagal di masa lalu.
Upaya ini seperti mempersenjatai kelompok lokal sebagai alternatif dari Hamas atau menciptakan zona aman di Jalur Gaza.
Ia menambahkan bahwa semua proyek ini didasarkan pada asumsi yang salah bahwa kesadaran Palestina dapat diubah melalui paksaan dan tekanan ekonomi.
Ia mencatat bahwa ide-ide ini terus diulang meskipun kegagalan sebelumnya, seperti halnya dengan ‘rencana para jenderal’ yang diluncurkan sebelum gencatan senjata di Gaza Utara, namun segera runtuh meskipun didukung oleh momentum militer.
Penulis berpendapat bahwa pendekatan ini tidak berbeda dengan ‘bencana 7 Oktober,’ di mana Israel percaya bahwa ideologi dapat ditundukkan dengan roti.
Milstein mengkritik keras pengambil keputusan di Tel Aviv karena mengabaikan pelajaran dari pengalaman masa lalu, seperti mendukung ‘ikatan desa’ di Tepi Barat atau aliansi gagal di Lebanon, dan menunjukkan bahwa mengadopsi model Amerika untuk mengubah realitas dengan kekuatan dan uang, seperti di Irak dan Afganistan, telah terbukti gagal, dan kini diterapkan kembali di Gaza.
Ia juga memperingatkan adanya duplikasi dalam wacana di Israel, di mana beberapa pihak menyerukan penyelesaian parsial, sementara yang lain berusaha untuk menduduki seluruh Jalur Gaza demi motif agama yang tidak terkait dengan logika keamanan, yang mengakibatkan kebuntuan strategis.
Dalam artikelnya, penulis mengajukan serangkaian pertanyaan yang ia sebut sebagai pertanyaan tak terjawab dalam debat publik, termasuk: Apakah batasan Israel? Apa hubungan dengan Palestina? Apa harga yang harus dibayar untuk menguasai bangsa yang terisolasi?
