Pembaruan Sejarah Indonesia, Fadli Zon: Pemberontakan PKI Tetap Sama
BERITA TERBARU INDONESIA, SEMARANG — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa dalam rangka memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia, pemerintah berencana menerbitkan 10 jilid buku yang memuat perjalanan sejarah Indonesia. Fadli menjelaskan, buku ini tidak bertujuan untuk mengubah fakta sejarah, tetapi untuk memperbaruinya dengan temuan dan data terbaru.
“Jadi bukan diubah, kita meng-update sejarah kita. Sebab sudah lama kita tidak menerbitkan buku tentang sejarah kita. Bertepatan dengan 80 tahun Indonesia merdeka, kita akan menerbitkan buku sejarah 80 tahun kemerdekaan Indonesia dengan versi yang diperbarui, ada revisi, penambahan, dan temuan baru yang akan kita masukkan,” ujar Fadli setelah membuka Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2025 di Museum Ranggawarsita, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (9/5/2025).
Fadli memastikan bahwa fakta sejarah yang sudah terbukti tidak akan diubah atau direvisi. Contohnya adalah mengenai pemberontakan PKI pada tahun 1948 dan 1965.
“Kita mengetahui bahwa PKI memang memberontak pada tahun 48, dan yang menjadi korban banyak adalah tokoh-tokoh kiai dari Nahdlatul Ulama, dari Gontor, dan kepala-kepala institusi pemerintah, seperti kepala pengadilan dan kepala sekolah,” katanya.
“Jadi, itu fakta bahwa PKI memberontak pada tahun 48 dan tahun 65, itu fakta sejarah. Tidak kita ubah,” tambah Fadli.
Ia menjelaskan bahwa dalam penulisan buku 80 tahun kemerdekaan Indonesia, pemerintah tetap akan merujuk pada dua karya sebelumnya, yaitu buku Sejarah Nasional Indonesia (1984) dan Indonesia dalam Arus Sejarah (2012). “Jadi kita bukan memulai dari nol, melainkan melanjutkan yang sudah ada dengan menambahkan,” jelasnya.
“Namun karena buku sejarah 80 tahun kemerdekaan Indonesia ini hanya terdiri dari 10 jilid, tentu masih terbatas. Nantinya, kita akan merinci masing-masing lebih detail,” tambah Fadli.
Fadli mengungkapkan bahwa penulisan buku sejarah 80 tahun kemerdekaan Indonesia melibatkan sekitar seratusan sejarawan. “Profesor dan doktor di bidangnya masing-masing,” ungkapnya.
