Pemerintah Siap Lelang Sukuk Senilai Rp 9 Triliun, Imbal Hasil Hingga 6,875 Persen
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pemerintah akan melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) senilai Rp 9 triliun pada Selasa, 22 Juli 2025. Lelang ini mencakup dua seri SPN-S dan lima seri PBS, dengan imbal hasil maksimum mencapai 6,875 persen.
Seri SBSN yang akan dilelang meliputi SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara–Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk) untuk memenuhi sebagian target pembiayaan dalam APBN 2025, menurut Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Rabu (16/7/2025).
SBSN seri SPN-S akan jatuh tempo pada bulan Januari dan April 2026, sementara seri PBS akan jatuh tempo antara 2027 hingga 2049. Pemerintah membuka kemungkinan penerbitan hingga 200 persen dari target indikatif. Imbal hasil yang ditawarkan berkisar dari diskonto hingga 6,875 persen.
Pemerintah juga menegaskan bahwa SBSN akan diterbitkan berdasarkan akad ijarah. SBSN seri SPN-S menggunakan akad Ijarah Sale and Lease Back berdasarkan Fatwa DSN-MUI Nomor 72/DSN-MUI/VI/2008. Sedangkan, SBSN seri PBS menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased sesuai Fatwa DSN-MUI Nomor 76/DSN-MUI/VI/2010, kata DJPPR.
Di sektor swasta, penerbitan sukuk korporasi juga mengalami kenaikan signifikan. Berdasarkan data PEFINDO, total penerbitan sukuk oleh perusahaan pada semester pertama 2025 mencapai Rp 23 triliun, meningkat tajam dari periode yang sama di tahun sebelumnya.
Penerbitan obligasi korporasi dan sukuk tercatat sebesar Rp 90,3 triliun, mengalami peningkatan 50,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 60,1 triliun, menurut Kepala Ekonom PEFINDO Suhindarto dalam konferensi pers, Selasa (15/6/2025).
Kenaikan penerbitan instrumen syariah dari pemerintah dan korporasi ini sejalan dengan tren global. Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 mencatat bahwa aset keuangan syariah global mencapai 4,93 triliun dolar AS pada 2023, dan diprediksi akan meningkat menjadi 7,53 triliun dolar AS pada 2028.
Aset keuangan syariah diperkirakan akan tumbuh signifikan, didukung oleh inovasi berkelanjutan, harmonisasi regulasi yang meningkat, dan permintaan konsumen akan solusi keuangan yang etis, tulis laporan SGIE.
