PIS Ajak Manfaatkan LNG untuk Dekarbonisasi
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — PT Pertamina International Shipping (PIS) memacu pemanfaatan gas alam cair (LNG) secara lebih luas. Direktur Perencanaan Bisnis PIS, Eka Suhendra, menyatakan bahwa penggunaan LNG berperan penting dalam upaya dekarbonisasi.
Eka menjelaskan bahwa PIS berkomitmen pada tujuan ini. PIS sedang mencari formula yang paling tepat dan efektif untuk mendukung transisi energi, terutama dalam penggunaan bahan bakar yang sepenuhnya bebas emisi di sektor maritim.
- Pertamina Perluas Proyek Avtur Berbahan Minyak Jelantah di Kilang Dumai dan Balongan
- Dirut: Bisnis Pertamina Tertekan Oleh Tiga Faktor Ini
- Dorong Ekonomi, Pertamina Tempa 30 UMKM Jadi Eksportir Tangguh
Eka menguraikan beberapa contoh sumber energi alternatif yang memerlukan proses panjang untuk implementasinya, seperti amonia, listrik, dan hidrogen. Tantangan utama dari penggunaan energi tersebut adalah kebutuhan akan teknologi yang lebih terjangkau.
“Kalau kita lihat sekarang, coba bandingkan biayanya antara yang tadi. Nah, kalau LNG itu lebih menguntungkan dan emisinya jauh lebih baik dibandingkan bahan bakar fosil yang sekarang ada,” ujar Eka saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Selasa (27/5/2025).
Dia menyinggung target besar pemerintah untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050. Menurutnya, opsi paling realistis saat ini adalah mulai memanfaatkan energi alternatif seperti LNG. Dia secara khusus mengajak seluruh pelaku industri dalam ekosistem kemaritiman untuk meningkatkan penggunaan LNG.
“Baik sebagai bahan bakar di kapal kita maupun sebagai kargonya sendiri,” ujar Eka.
Pemerintah memiliki rencana untuk menggerakkan Indonesia dengan bahan bakar hijau, namun kendala utama tetap pada biaya. Yang terpenting saat ini, menurut Eka, adalah memastikan ekosistem maritim nasional siap memanfaatkan energi alternatif seperti LNG secara lebih luas.
Eka mengatakan, sejauh ini belum ada perhitungan pasti terkait kebutuhan LNG di PIS sebagai bagian dari aksi dekarbonisasi. Namun, yang penting adalah kapal-kapal PIS sudah menggunakan mesin dual fuel. Fokusnya saat ini adalah mendorong terbentuknya ekosistem terlebih dahulu.
Dia juga menyinggung tantangan di lapangan, terutama belum tersedianya fasilitas bunkering LNG yang memadai untuk pengisian LNG, khususnya di rute-rute kapal PIS.
“Kalau kapalnya harus menuju ke sini dulu terus isi bahan bakar di sini, ya tidak efisien. Nah, ini yang kita tunggu, misalnya ada di Tanjung Priok, itu kan enak,” kata Eka.
