Pojok Bulaksumur Diskusikan Program Inklusivitas di UGM
BERITA TERBARU INDONESIA, YOGYAKARTA — Topik mengenai inklusivitas, transparansi, dan advokasi bagi mahasiswa kurang mampu terus menjadi perbincangan yang menarik di kalangan pendidikan tinggi. Seringkali, berbagai tantangan terkait inklusivitas menjadi penghalang bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Universitas Gajah Mada (UGM) mengadakan diskusi tentang program inklusivitas mahasiswa serta advokasi bagi mahasiswa kurang mampu dalam acara diskusi bulanan Pojok Bulaksumur di Gedung Pusat UGM, Senin (19/5/2025).
Pada kesempatan tersebut, Sekretaris UGM, Andi Sandi Antonius, mengungkapkan bahwa status UGM sebagai kampus kerakyatan yang didirikan oleh para pendiri bangsa dan tokoh nasional dari berbagai latar belakang menjadi dasar bagi program inklusivitas di UGM. Program ini diperuntukkan bagi penyandang disabilitas serta mereka yang kurang mampu secara ekonomi.
“Program inklusivitas di UGM tidak hanya untuk difabel, tetapi juga untuk mereka yang kurang mampu secara ekonomi,” jelas Andi.
Menanggapi transparansi pengelolaan UKT serta advokasi bagi mahasiswa kurang mampu, Sekretaris Direktorat kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, menekankan pentingnya dialog dengan mahasiswa.
“Setiap fakultas sudah memiliki SK untuk selalu melibatkan mahasiswa dalam penentuan UKT,” ujarnya.
Sejak diresmikan pada 10 Desember 2024, Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM telah berperan penting dalam mengubah lanskap kampus menjadi lebih ramah dan akomodatif bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Lebih dari sekadar menyediakan fasilitas fisik, ULD UGM berfungsi sebagai advokat, fasilitator, dan pendamping bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.
Fungsi utama ULD UGM adalah melakukan asesmen komprehensif terhadap kebutuhan individual mahasiswa disabilitas. Tim ahli di ULD bekerja sama dengan mahasiswa untuk memahami tantangan spesifik yang mereka hadapi, mulai dari kendala aksesibilitas fisik, kebutuhan media pembelajaran alternatif, hingga dukungan dalam interaksi sosial dan akademik.
“Tidak sedikit yang mengalami kesulitan saat asesmen, seperti kesalahan saat pengisian data. Dari sinilah kami akan lebih komprehensif dalam mendampingi mahasiswa penyandang disabilitas,” kata Kepala Unit Layanan Disabilitas UGM, Wuri Handayani.
Mahasiswa penerima program inklusif ini merasa sangat terbantu dengan adanya program tersebut. Bagi mereka, kekurangan bukanlah penghalang untuk menempuh pendidikan tinggi di UGM.
“Saya merasa sangat terbantu dengan program dari Unit Layanan Disabilitas UGM. Kekurangan yang saya miliki tidak lagi menjadi hambatan selama mengikuti perkuliahan di UGM, dan saya akan selalu merindukan suasana kelas yang suportif,” ungkap Anis, seorang penyandang disabilitas yang juga mahasiswa Fakultas Pertanian UGM.
