Produksi Beras Meningkat 51 Persen, Wamentan: Peran TNI Signifikan
BERITA TERBARU INDONESIA, PONTIANAK — Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, menyatakan bahwa produksi beras nasional mengalami peningkatan signifikan sebesar 51 persen pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi jagung juga meningkat hingga 39 persen berkat kolaborasi banyak pihak.
“Data ini berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru saja dirilis. Ini adalah pencapaian luar biasa berkat kerja keras para petani sebagai aktor utama, serta dukungan dari berbagai pihak,” kata Sudaryono dalam kunjungan kerjanya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa.
Menurutnya, pencapaian ini tidak terlepas dari kerja sama antara petani, penyuluh pertanian, serta institusi negara seperti TNI dan Polri.
“Untuk produksi beras, TNI memiliki peran besar dalam pendampingan dan fasilitasi di lapangan. Sementara untuk jagung, Polri turut mendorong peningkatan produktivitas dengan berbagai bentuk dukungan,” tambahnya.
Sudaryono juga menyoroti dukungan dari kepala daerah, kepala desa, dinas pertanian, hingga para penyuluh yang berada di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP).
Dalam kesempatan tersebut, Wamen juga menyampaikan sejumlah kebijakan strategis yang mencerminkan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung sektor pangan dan petani. Salah satunya adalah penambahan kuota pupuk bersubsidi dari sebelumnya 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton pada tahun ini.
“Kebijakan ini diambil untuk mengatasi kelangkaan pupuk yang sempat terjadi tahun lalu. Pemerintah juga menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah minimal Rp6.500 per kilogram, sebagai bentuk dukungan kepada petani,” ujarnya.
Sudaryono menambahkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto, dengan latar belakang militer, membawa paradigma ekonomi kerakyatan dalam kebijakan nasional. Beberapa langkah yang telah diambil termasuk penghapusan utang petani terdampak bencana, program makan bergizi gratis, subsidi pupuk, hingga pembentukan sekolah rakyat untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem.
“Presiden mengutamakan kepentingan rakyat. Beliau menghemat anggaran belanja negara hingga Rp750 triliun, yang kemudian dialokasikan untuk kebutuhan mendesak rakyat seperti pupuk, pembelian gabah, hingga perbaikan sekolah,” katanya.
Ia juga menyatakan bahwa efisiensi anggaran ini dilakukan dengan mengevaluasi seluruh mata anggaran kementerian/lembaga secara langsung di tingkat istana, termasuk memangkas kegiatan seremonial dan perjalanan dinas yang dinilai tidak mendesak.
Di akhir sambutannya, Sudaryono mengapresiasi seluruh jajaran yang hadir, termasuk unsur TNI, Polri, Kejaksaan, DPR RI dan DPRD, serta para kepala daerah yang terus bersinergi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Ini bukan kerja satu dua orang, melainkan gotong royong semua pihak demi kedaulatan pangan Indonesia,” tutupnya.
