Produksi Kopi Gayo Menurun Akibat Dampak Perubahan Iklim
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Perubahan iklim mulai mengancam keberlanjutan produksi kopi Gayo, salah satu kopi spesialti unggulan di Indonesia. Curah hujan yang tidak menentu dan suhu yang semakin meningkat berdampak langsung pada penurunan hasil panen dan penyebaran hama penyakit tanaman.
Imran, seorang petani kopi dari Desa Bale Redelong, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menyatakan bahwa produksi kopi miliknya mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir.
“Sebelum tahun 2016, produksi bisa mencapai 70 hingga 80 ton per tahun, sekarang hanya 30 hingga 40 ton,” ungkap Imran dalam diskusi Dari Ladang ke Cangkir: Peluang Kopi Spesialti di Tengah Perubahan Iklim, Rabu (14/5/2025).
Menurutnya, pemanasan global telah mempercepat penyebaran hama penggerek buah, yang menyebabkan penurunan kualitas biji kopi, kerusakan batang, hingga kematian tanaman.
“Pemanasan global mempengaruhi penyebaran hama penggerek buah dengan cepat. Ini adalah masalah utama yang kami hadapi sebagai petani di Gayo,” ujar Imran.
Kopi Gayo, yang ditanam pada ketinggian 1.200 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut, dikenal dengan rasa dan aroma khasnya. Namun, perubahan iklim membuat kondisi tanam menjadi tidak stabil. Imran menekankan pentingnya pelatihan bagi petani untuk memahami varietas yang sesuai dan menerapkan pertanian adaptif terhadap iklim.
Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa hingga tahun 2050, sekitar 50 persen wilayah produksi kopi dunia terancam hilang. Khusus untuk Arabika, jenis utama kopi spesialti, diperkirakan 80 persen produksinya akan terdampak akibat krisis iklim.
Indonesia, menurut World Resources Institute (WRI) Indonesia, memiliki keunggulan komparatif dengan banyak varietas kopi spesialti seperti Gayo, Ijen Raung, dan Arabika Wamena. Namun, ancaman iklim membuat perlunya adaptasi segera.
Menanggapi kondisi tersebut, WRI bersama HSBC meluncurkan proyek pendampingan petani kopi Gayo melalui pendekatan pertanian berkelanjutan. Direktur Program Pangan, Lahan, dan Air WRI Indonesia, Tomi Haryadi, menjelaskan bahwa program ini akan berlangsung pada 2025–2027 dan menargetkan intervensi di 1.200 hektare hutan desa.
“Dengan pendekatan praktik pertanian yang baik, kami ingin membantu petani meningkatkan kesejahteraan sambil tetap menjaga kelestarian hutan,” ujarnya.
Proyek ini tidak hanya fokus pada produktivitas, tetapi juga mitigasi iklim. Dengan praktik agroforestri, proyek ini ditargetkan mampu menyerap emisi gas rumah kaca hingga 50 ton per hektare.
Tomi menambahkan, pelibatan kelompok perempuan dan pemuda dalam rantai pasok kopi berkelanjutan menjadi prioritas, baik dalam pengolahan maupun akses pasar. Proyek ini juga diharapkan dapat meningkatkan hasil panen menjadi 1,2 hingga 2 juta ton per hektare.
“Dengan pendekatan ini, kami berharap pasar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi komunitas petani, sekaligus mendukung konservasi hutan dan pengurangan emisi,” kata Tomi.
Inisiatif ini menegaskan bahwa krisis iklim tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga ketahanan ekonomi dan budaya masyarakat. Di dataran tinggi Gayo, kopi bukan sekadar komoditas, melainkan identitas dan warisan yang kini tengah terancam.
