Ratusan Karyawan Mulai Terima JHT Setelah Kebakaran PT MTG
BERITA TERBARU INDONESIA, SLEMAN – Tiga minggu setelah kebakaran besar di PT Mataram Tunggal Garmen (MTG) yang berlokasi di Balong, Donoharjo, Kabupaten Sleman, sebanyak 989 karyawan yang terkena dampak PHK mulai menerima Jaminan Hari Tua (JHT).
Penyerahan JHT ini merupakan hasil kerja sama antara PT MTG, BPJS Ketenagakerjaan, dan Pemerintah Kabupaten Sleman dan diserahkan secara simbolis pada hari Senin (16/6/2026).
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sleman, Rudi Susanto, menjelaskan bahwa pemberian manfaat JHT ini bukan sekadar urusan administratif, namun juga bagian dari misi kemanusiaan dan perlindungan sosial. Layanan jemput bola ini berlangsung selama tiga hari untuk memastikan hak-hak pekerja terpenuhi meski dalam kondisi sulit.
“Selama tiga hari ke depan, kami menjadwalkan pelayanan klaim jemput bola untuk 989 pekerja PT MTG yang mengalami PHK. Angka-angka ini bukan sekadar data dalam laporan, tetapi bukti kehadiran pemerintah, negara, dan BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Rudi, Senin (16/6/2025).
Total JHT yang disalurkan kepada 989 mantan karyawan PT MTG mencapai Rp 3.905.409.473. Setiap pekerja menerima jumlah berbeda tergantung pada lama masa kerjanya.
Selain JHT, BPJS Ketenagakerjaan juga menyediakan manfaat lanjutan berupa Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang memberikan santunan tunai hingga 60 persen dari gaji selama enam bulan, serta akses ke pelatihan kerja dan lowongan pekerjaan melalui aplikasi Siap Kerja.
“Kami menyadari bahwa PHK ini bukan hal yang menyenangkan, tetapi dengan kepastian atas manfaat JHT, kami dari BPJS Ketenagakerjaan bekerja sama dengan BTN memberikan kepastian bahwa selama tiga hari ke depan layanan klaim akan langsung diproses dan sejumlah kurang lebih Rp 3,9 miliar akan dibayarkan kepada 989 pekerja,” tuturnya.
Sementara itu, Komisaris Utama PT MTG, Robby Kusumaharta, menyampaikan terima kasih kepada BPJS dan Pemkab Sleman atas koordinasi cepat dan dukungan penuh sejak hari pertama bencana. Ia juga menyampaikan refleksi mendalam tentang arti kebersamaan dan solidaritas setelah insiden kebakaran.
Robby juga mengambil hikmah bahwa peristiwa ini memperkuat nilai-nilai hubungan antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah.
“Musibah yang menimpa kami cukup mengejutkan karena risiko tidak pernah kita duga, dan dari situ kami merasakan makna dari relasi antara vertikal horizontal,” ungkapnya.
Robby mengatakan meskipun secara formal telah terjadi PHK, tetapi secara moral dan sosial, hubungan antara perusahaan dan karyawan tetap kuat. MTG, kata Robby, telah lama menjadi pusat pengembangan SDM unggul, termasuk melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan program pengiriman tenaga kerja ke Jepang. Robby menegaskan bahwa pihaknya telah menyusun strategi pemulihan, termasuk target renovasi pabrik yang akan dimulai bulan depan.
Ia juga memastikan bahwa setelah proses renovasi yang diperkirakan akan memakan waktu enam bulan selesai, para pekerja yang terdampak akan menjadi prioritas untuk kembali dipekerjakan.
“Kami berkomitmen bahwa setelah pabrik kami selesai, Anda tentu masih akan bekerja dengan kami. Mari kita jaga silaturahmi dan hubungan ini,” kata Robby.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menjadi pihak yang sejak awal sigap mengawal penanganan dampak kebakaran. Ia menggambarkan betapa seriusnya dampak musibah ini terhadap kelangsungan hidup para pekerja dan keberlanjutan industri garmen di wilayahnya.
Oleh karena itu, sejak hari kejadian, Pemkab Sleman berusaha menjembatani solusi jangka pendek, termasuk mencarikan pabrik mitra untuk relokasi sementara produksi, meskipun menghadapi sejumlah kendala teknis.
“Saya terus memikirkan bagaimana caranya agar kondisi ini tidak sampai memberhentikan 1800 pekerja. Mudah-mudahan ini hanya berhenti sementara,” tambahnya.
Lebih lanjut, Danang menyampaikan bahwa Pemkab Sleman meluncurkan program Taksi Pekerja, sebuah inisiatif untuk menjembatani tenaga kerja dengan perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan. Dalam tiga hari masa layanan klaim JHT ini, program tersebut dibuka khusus untuk eks-pekerja MTG, dan akan dilanjutkan di Dinas Tenaga Kerja jika animo tinggi.
“Taksi Pekerja ini bisa diakses selama tiga hari saat teman-teman ini mengambil JHT. Syukur kalau nanti peminatnya banyak, silakan,” ujarnya.
