Indonesia Bersama BRICS Academy Tingkatkan Teknologi Ramah Lingkungan
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menggalang kerja sama strategis dengan BRICS Academy of Skills Development and Technology Innovation yang berlokasi di Xiamen, China, guna mempercepat pembangunan berkelanjutan dan menciptakan wirausahawan muda berbasis teknologi. Inisiatif ini diharapkan mampu mengatasi tantangan global seperti krisis energi, ketahanan pangan, dan kesenjangan dalam inovasi teknologi di negara-negara berkembang.
Kerja sama tersebut dipertegas melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dengan BRICS Academy di Jakarta, Selasa (20/5/2025).
“Inisiatif ini menjadi peluang membangun kerangka kerja formal untuk kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas dan BRICS Academy dalam memajukan pembangunan berkelanjutan, pengembangan kapasitas, dan inovasi teknologi,” ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dalam pernyataan resmi.
Rachmat menegaskan pentingnya kolaborasi ini dalam mendukung pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 serta RPJMN 2025–2029, yang memprioritaskan pertumbuhan inklusif dan transformasi ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.
Menurut Rachmat, kemitraan ini bukan sekadar aspek teknis, melainkan langkah strategis menghadapi disrupsi global. “Kami percaya bahwa dengan semangat kolaborasi dan kepercayaan bersama, kemitraan ini akan memberikan kontribusi nyata bagi dunia yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan kompetitif,” tuturnya.
BRICS Academy, sebagai bagian dari inisiatif negara-negara berkembang Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, aktif dalam pengembangan teknologi terapan dan pelatihan kewirausahaan. Institusi ini menjadi wadah pertukaran keahlian lintas negara selatan (Global South) yang selama ini sering tertinggal dalam penguasaan teknologi.
Presiden BRICS Academy Liu Zhenying menyatakan pihaknya sangat antusias untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia, khususnya dalam memperkuat inovasi teknologi dan pengembangan talenta muda.
“Kami sangat gembira bekerja sama dalam mekanisme BRICS, berkolaborasi untuk memajukan penerapan teknologi dan inovasi demi mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Liu.
Ruang lingkup kolaborasi meliputi energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, pangan dan gizi, ekonomi biru, pengurangan food loss dan food waste, teknologi terapan, hingga pendirian SDGs Entrepreneur Center—pusat pelatihan wirausaha berbasis riset dan teknologi.
Dampak langsung dari kemitraan ini diharapkan dapat dirasakan oleh generasi muda Indonesia, terutama di sektor-sektor produktif yang menjadi tumpuan transformasi ekonomi dua dekade ke depan. Dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, kerja sama ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat ekosistem riset, dan meningkatkan daya saing nasional.
