Kemarahan Pelaku Pariwisata Saat Dedi Mulyadi Berkunjung ke Yogya
BERITA TERBARU INDONESIA, SLEMAN — Saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi tiba di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang ia dapatkan bukanlah sambutan hangat, melainkan kritikan pedas dari pelaku wisata yang merasa dirugikan oleh kebijakan pelarangan study tour di Jabar yang diberlakukan oleh Dedi Mulyadi. Dampaknya, sektor pariwisata di Yogya mengalami kelesuan.
Berbagai spanduk berisi sindiran keras terlihat di berbagai sudut strategis Sleman. Spanduk-spanduk tersebut mengungkapkan kekecewaan terhadap kebijakan yang melarang study tour ke luar daerah, menjadikan mereka sebagai ‘gapura selamat datang’ untuk mantan bupati Purwakarta tersebut.
- Pekerja Pariwisata akan Kembali Berdemo Terkait Study Tour, Dedi Mulyadi: Silakan Saja
- Spanduk Penolakan di Yogyakarta, Dedi Mulyadi Menyatakan: Bukan Penolakan, Melainkan Sambutan Gembira
- Isu Sekolah Baru di Jabar, Dedi Mulyadi Menyindir Ridwan Kamil?
Menurut BERITA TERBARU INDONESIA, setidaknya ada tiga spanduk yang masih terpasang di simpang empat Monumen Jogja Kembali (Monjali), simpang empat Kentungan, dan area UPNV Yogyakarta. Masing-masing menuliskan “Selamatkan Pariwisata dari Gubernur Pencitraan KDM”, “KDM Sudahi Pencitraanmu, Perekonomian Wisata Gulung Tikar Karena Ulahmu!” dan “KDM Gubernur Konten Jangan Jadikan DIY Sebagai Bahan Kontenmu !!!”.
Selain sindiran, spanduk tersebut juga menggambarkan Dedi Mulyadi yang tampak asyik dengan ponselnya. Ketiga spanduk ini mencantumkan nama Forum Wisata Jogja Jateng sebagai penggagasnya.
Spanduk-spanduk tersebut mulai terlihat sejak 5 Agustus 2025, bertepatan dengan kunjungan Dedi Mulyadi ke Sleman untuk menghadiri Konser Kebangsaan dalam rangka Milad ke-13 Pondok Pesantren Ora Aji milik Gus Miftah. Namun, hingga saat ini, spanduk-spanduk itu masih terpasang.
Protes ini merupakan lanjutan dari penolakan terhadap kebijakan larangan study tour yang sebelumnya telah disuarakan oleh para pemilik bus pariwisata. Kini, pelaku wisata DIY juga menyatakan keberatan mereka, karena kebijakan tersebut mengurangi kunjungan pelajar asal Jawa Barat, yang selama ini menjadi salah satu pasar potensial wisata pendidikan di Yogyakarta.
BERITA TERBARU INDONESIA berusaha mendapatkan keterangan dari Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi terkait spanduk tersebut. Sayangnya, dia tidak memberikan banyak komentar.
Imam menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa mencampuri kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah lain. “Pada prinsipnya, kami tidak dapat memengaruhi kebijakan yang telah diambil oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat berdasarkan kondisi yang berkembang di wilayahnya,” ujar Imam, saat dihubungi Kamis (7/8/2025) malam.
Meskipun demikian, komunikasi antarwilayah tetap dilakukan, khususnya dalam upaya promosi bersama melalui program Mitra Praja Utama. “Kami tetap berkomunikasi dengan Kadispar Provinsi Jabar di bawah payung kerja sama Mitra Praja Utama dalam bentuk kerja sama promosi destinasi wisata karena tentunya masih ada potensi wisatawan dari Jawa Barat yang bukan study tour,” jelasnya.
