Ketika Seniman Grafiti Asal Sukabumi Memilih Berlin Sebagai Rumah Baru
Daniel Parasaudi telah tinggal di Berlin selama dua tahun. Sebelumnya, pria asal Sukabumi ini menjalani kehidupan di Lombok. Selama hampir dua dekade, dia telah menekuni seni grafiti. ‘Saya sangat menyukai grafiti karena sifatnya yang memberontak, terutama pada tahun 2005 ketika itu sedang populer,’ kata Daniel, yang lebih dikenal dengan nama Emet.
Di dinding rumahnya, beberapa karyanya diabadikan dalam bentuk kanvas. Salah satu kanvas menggambarkan restoran cepat saji dari Amerika Serikat, kaleng soda, Rumah Gadang, serta warna merah, kuning, dan krem yang mencolok. ‘Oh itu, saya hanya ingin mengkritik kenapa anak muda Indonesia sangat bangga makan di restoran cepat saji,’ jelasnya sambil tertawa.
Rendang Sebagai Palet Warna Inspirasi Emet
Rendang telah menginspirasi Emet dalam karyanya. ‘Saya sempat ke Padang untuk belajar membuat rendang langsung dari uni di sana, meskipun saat mencoba memasaknya lagi di Berlin, rasanya berbeda, terutama kelapanya,’ jelas Emet dengan semangat. ‘Rendang selalu ada dalam ingatan saya sejak kecil, saat diajak Bapak ke restoran Padang, dan saya hanya boleh memilih satu lauk – saya tidak pernah berubah, pasti selalu memilih rendang. Jika rendangnya enak, maka semua makanan di restoran itu pasti enak.’
Menurut Emet, rendang bukan hanya sekadar daging yang lezat dari Indonesia. ‘Rendang berasal dari proses memasak yang disebut merendang – santan (yang penuh dalam kuali) dimasak hingga mengental. Ada proses dari gule – kalio – sampai menjadi rendang hitam,’ jelas seniman grafiti yang juga gemar memasak ini. ‘Perpaduan warna rendang inilah yang saya bawa ke dalam karya-karya saya.’ Oleh karena itu, karyanya sering kali diwarnai dengan nuansa rendang: merah marun dari cabai, kuning dari kunyit, hijau dari serai, dan krem dari santan.
Ibarat Ikan Kecil di Lautan Luas
Pindah ke kota yang memiliki sejarah panjang dalam dunia grafiti tentu bukan hal mudah. Ketika Berlin terpisah menjadi Berlin Barat dan Timur pada tahun 1961, kedua wilayah dipisahkan oleh tembok Berlin.
Tembok Berlin menjadi kanvas bagi masyarakat Berlin Barat untuk mengekspresikan diri dan melayangkan kritik politik melalui grafiti. Perkembangan seni di kota ini semakin melesat bahkan setelah tembok Berlin runtuh pada tahun 1989.
Kini, hampir di setiap sudutnya, pengunjung dapat melihat berbagai jenis grafiti seperti blockbuster, simple tags, bubble letter, wildstyle, hingga character graffiti. Diperkirakan ada sekitar 15.000 seniman grafiti di Berlin, menurut koran harian setempat.
Bagi Emet, berpindah ke kota yang dipenuhi seniman grafiti ini seperti menjadi ikan kecil di lautan luas. ‘Namun, fokus saya bukan untuk bersaing, melainkan untuk membangun jaringan,’ katanya. ‘Mungkin lebih banyak pameran di luar Berlin karena kota ini sudah penuh dengan seniman, peluang lebih besar jika pameran di luar.’
Emet sering berdiskusi dengan komunitas di distriknya, Pankow. Melalui diskusi-diskusi ringan di taman atau area publik lainnya, Emet menemukan ‘ruang baru’ untuk berkarya. Dia juga bertemu dengan Katja Hellkötter dan Jan Siefke, pendiri komunitas kreatif “C-Space” di Pankow/Weisensee.
C-Space membuka ruang kolaborasi untuk para seniman di studio mereka. ‘Sudah lama kami ingin memperbarui dinding gerbang depan studio kami yang sudah lapuk, butuh hampir tiga tahun untuk meyakinkan pemilik bangunan agar kami bisa membersihkannya dan membuat grafiti baru,’ jelas Jan. ‘Kami secara tidak sengaja bertemu Daniel di community garden dan dia bersedia membuat grafiti di tembok kami.’
Meski tidak menonjolkan warna rendang seperti biasanya karena menyesuaikan dengan warna bangunan C-Space, karya ‘Crema’ Emet membuat Jan terkesan. ‘Crema menceritakan tentang perpindahan orang, pertemuan, perjalanan, koneksi, banyak sekali hal-hal kecil yang bercerita dalam mural ini,’ tambah Jan.
Menurut Jan, karya Emet memiliki karakter yang ceria, dan ia sangat senang berkolaborasi dengan seniman asal Sukabumi itu.
‘Crema’ dibuat dalam rangka kolaborasi C-Space dengan Berlin Asia Arts Club pada Pankow Artspring, 3 Mei 2025 lalu. Butuh dua hari bagi Emet untuk menyelesaikan karya tersebut.
Ketika Mural ‘Legal’ Sulit Ditemukan
Pada tahun 2023, salah satu penyedia jasa transportasi publik di Berlin menghapus sekitar 150 ribu meter persegi grafiti dari keretanya. Pada tahun yang sama, penyedia jasa transportasi publik Jerman, Deutsche Bahn, mengalami kerugian hingga 12 juta Euro (227 miliar Rupiah) akibat vandalisme ini.
‘Yang melukis di kereta-kereta itu memang cepat, wah, saya sudah tidak mencari adrenalin seperti itu, saya lebih memilih melukis di tembok-tembok legal, kalau mau gambar izin dulu,’ jelas Emet.
Makin banyak seniman grafiti di Berlin ternyata membuat tembok legal tidak pernah sepi peminat. ‘Pernah suatu ketika saya mengantri di taman yang memiliki tembok legal untuk grafiti, seperti di Mauerpark. Baru saja selesai, di belakang sudah ada yang siap menimpa (dengan gambar baru),’ cerita Emet tentang pengalamannya berkarya di Berlin yang penuh tantangan. Dia pun memindahkan medium tembok legal ke kanvas lukisan ‘Jadi bisa lanjut berkarya tanpa harus mengantri.’
Beberapa karya Emet sudah menghiasi tembok-tembok kafe di Berlin, produsen mobil listrik di Brandenburg, bahkan merambah ke medium lukisan dan patung.
Membuka ‘Warung Pop-up’ untuk Mengusir Rindu
Sebagai pendatang, banyak hal yang dirindukan dari tanah air. Untuk mengobati kerinduan itu, Emet dan teman-temannya di Berlin membuka warung Bhinnekayon setiap akhir pekan.
Setiap minggu, menu warung Bhinnekayon bisa berbeda-beda. ‘Ini sebenarnya inisiatif kawan-kawan seniman di Berlin. Jadi siapa yang mau masak ayo, nanti saya buatkan posternya sesuai karakter si tukang masak,’ kata Emet.
Dari warung bubur kacang ijo, gulai kambing, tongseng, selalu berhasil menarik perhatian orang-orang Indonesia di Berlin. Tidak hanya makanan, kadang warung ‘ajaib’ ini juga menampilkan karya seniman Indonesia hingga konser musik.
‘Lumayanlah untuk mengobati rasa kangen pada kampung halaman,’ kata Emet.
Jatuh-bangun berkarya di Berlin, membuat Emet tidak berhenti berkarya. Selanjutnya, seniman multitalenta itu bersiap ‘unjuk gigi’ pada pameran berikutnya. ’27 Juni nanti saya akan pameran di Malchow, ini pertama kalinya sebagai seorang muslim saya berkesempatan pameran di gereja, temanya tentang Spielplatz (red. tempat bermain),’ jelasnya dengan antusias.
Pameran tersebut akan digelar di Stadtkirche Malchow hingga 14 September 2025.
Editor: Rizki Nugraha
