Tanggapan Disdik Jabar Mengenai 658 Ribu Siswa Putus Sekolah
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG– Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat (Jabar) memberikan keterangan mengenai 658 ribu siswa di wilayah tersebut yang mengalami putus sekolah. Lebih dari 200 ribu siswa di antaranya berada di bawah kewenangan Disdik Jabar.
Kepala Disdik Jabar, Purwanto, menyatakan bahwa masalah siswa putus sekolah di Jawa Barat bersifat multidimensi. Ia menjelaskan bahwa persoalan ini tidak hanya menyangkut akses, tetapi juga terkait ekonomi dan faktor budaya.
“Ya, masalah sekolah ini bersifat multidimensi bukan hanya soal akses, tetapi juga soal ekonomi, dan budaya yang perlu diselesaikan secara holistik dan integratif dengan pendekatan dari berbagai sektor,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (11/6/2025).
Purwanto menceritakan pengalaman menangani anak putus sekolah dengan cara memberikan sekolah gratis, seragam, dan tempat tinggal. Namun, hal tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. “Ada faktor budaya, di mana anak-anak setiap hari bisa mendapatkan uang Rp 50 hingga 150 ribu, beberapa di antaranya melalui kegiatan di jalan atau mengamen. Mereka lebih memilih itu,” jelasnya.
Ia juga mengakui masih ada siswa yang putus sekolah karena jarak yang jauh dari rumah ke sekolah.
Disdik Jabar telah menyiapkan beasiswa bagi siswa yang berada dalam ekonomi kemiskinan ekstrem untuk mendapatkan akses pendidikan SMA. Sementara itu, untuk tingkat SD dan SMP, diperlukan kolaborasi dengan pemerintah kota dan kabupaten.
Purwanto menggarisbawahi pentingnya pendataan siswa putus sekolah di tingkat desa. Penanganan masalah ini harus dilakukan dengan pendekatan multidimensi. “Beasiswa sebesar Rp 25 miliar disiapkan untuk anak-anak dalam kondisi kemiskinan ekstrem, untuk biaya operasional dan personal sekolah,” katanya.
Menurutnya, dana tersebut direncanakan untuk digunakan selama tiga tahun ke depan. Dengan harapan jumlah anak yang putus sekolah dapat berkurang dan mereka bisa kembali bersekolah. “Kami berharap secara bertahap masalah ini dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Harapannya, siswa yang putus sekolah bisa kembali, dan yang terancam bisa melanjutkan. Perlu penanganan kolaboratif dengan kepala desa,” tuturnya.
Pada Kamis berikutnya (12/6/2025), ia berencana mengumpulkan kepala dinas kabupaten dan kota serta kemenag untuk menyusun data siswa putus sekolah dan merancang rencana aksi.
Sebelumnya, Anggota DPRD Jawa Barat Zaini Shofari meminta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk tidak hanya fokus pada program siswa bermasalah yang dikirim ke barak militer, tetapi juga memperhatikan siswa yang putus sekolah atau berisiko tidak melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi dan kemiskinan.
Hal ini disampaikan setelah adanya seorang siswa SMA di Cirebon yang melakukan tindakan ekstrem karena depresi tidak bisa melanjutkan sekolah. Zaini menyatakan total siswa yang putus sekolah di Jawa Barat mencapai 658.831 anak, dengan 246.798 anak berada di bawah wewenang Pemprov Jabar.
