Konsekuensi Tidak Menunaikan Haji Meski Sudah di Tanah Suci
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Kewajiban ini harus dipenuhi oleh umat Islam yang memiliki kemampuan, baik dari segi fisik, kesehatan, finansial, maupun sarana transportasi.
Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran:
"Dan (di antara) kewajiban manusia kepada Allah adalah menunaikan ibadah haji ke Baitullah, bagi siapa saja yang mampu melakukan perjalanan ke sana" (QS Ali Imran: 97).
Banyak umat Islam yang mendambakan kesempatan untuk berhaji ke Tanah Suci. Namun, ada kalanya beberapa individu yang sebenarnya mampu malah enggan menunaikan rukun ini.
Lebih parah lagi, ada yang sudah berada di Tanah Suci pada musim haji, dalam keadaan sehat dan mampu melaksanakan ibadah tersebut, tetapi justru malas melakukannya.
Ustaz Amien Nurhakim menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan keras mengenai hal tersebut.
Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang bisa membawanya ke Baitullah, tapi ia tidak berhaji, maka tak ada bedanya baginya apakah ia mati sebagai Yahudi atau Nasrani" (HR At-Tirmidzi).
Menurut al-Mubarakfuri, hadis di atas merupakan peringatan keras bagi mereka yang meremehkan kewajiban haji ketika sudah mampu. Jika seseorang menolak wajibnya haji, ia bisa terjerumus ke dalam kekufuran.
Jika seseorang mengakui wajibnya haji tetapi malas melaksanakannya, ia berdosa besar. Tindakannya bisa disamakan dengan Yahudi atau Nasrani dalam hal mengabaikan perintah Allah.
Bekal terbaik
Kesempatan untuk berhaji adalah hal yang patut disyukuri. Banyak orang yang telah mendaftar untuk berhaji namun harus menunggu dalam antrean panjang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa berangkat.
Ada juga yang sudah memiliki kemampuan untuk berhaji, tetapi belum merencanakannya. "Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS Ali Imran [3]: 97).
