Tarif Trump Diterapkan Agustus, Pengaruhnya pada Industri Halal Minimal
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana menerapkan tarif 32 persen terhadap seluruh produk dari Indonesia mulai 1 Agustus 2025 telah menimbulkan kekhawatiran yang luas mengenai daya saing ekspor nasional. Meski demikian, para pelaku industri halal menilai dampaknya akan terbatas. Hal ini disebabkan karena pasar utama produk halal Indonesia bukanlah Amerika Serikat.
Menurut Sapta Nirwandar, seorang tokoh ekonomi syariah dan Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center, ekspor halal Indonesia lebih terfokus pada negara-negara OKI dan kawasan Eropa. “Saya kira, perubahan global saat ini tidak terlalu berdampak besar terhadap pasar halal kita. Ekspor kita ke Amerika Serikat itu kecil sekali,” ungkap Sapta di Gedung Bappenas Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Ia menilai bahwa tantangan terbesar dalam ekspor halal bukan hanya dari kebijakan tarif, tetapi lebih kepada hambatan struktural lainnya seperti logistik dan efisiensi rantai pasok. “Masalah hambatan ekspor bukan pada produk halalnya, tetapi lebih pada tarif dan proses logistik,” jelasnya.
Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/25, Indonesia masih berada di 10 besar eksportir produk halal dunia, namun belum mencapai lima besar karena masih tertinggal dari negara-negara non-Muslim seperti China, India, Rusia, dan Brasil. Namun demikian, Indonesia justru menjadi pengimpor halal terbesar keempat di dunia, menunjukkan masih lebarnya defisit perdagangan halal.
Sapta menyarankan agar strategi ekspor disesuaikan dengan karakteristik pasar dan tidak hanya berfokus pada Amerika. “Strateginya harus disesuaikan dengan karakter pasar masing-masing,” tambahnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin menyebutkan bahwa tarif 32 persen dari AS ini dapat berdampak pada sektor industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan perikanan. Ia menekankan bahwa potensi PHK massal dapat terjadi jika ekspor menurun secara signifikan.
“Hal ini tentunya akan mengurangi laba yang diperoleh industri dalam negeri, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan terjadinya PHK,” kata Saleh.
Ia mendorong pemerintah untuk memberikan insentif langsung kepada pelaku usaha yang terkena dampak dan segera menjajaki pasar-pasar alternatif di luar AS.
