Militer Israel Mengakui Tembaki Warga Pencari Bantuan di Gaza
BERITA TERBARU INDONESIA,GAZA – Anggota militer Israel mengakui bahwa mereka menerima perintah langsung untuk menembak warga Palestina yang berada di dekat pusat bantuan yang dioperasikan oleh organisasi bernama “Kemanusiaan Gaza” di Jalur Gaza. Hingga saat ini, lebih dari 500 orang telah menjadi korban dalam insiden ini.
Pejabat militer Israel menyampaikan kepada media Israel bahwa perintah tersebut dikeluarkan oleh komandan militer untuk menjauhkan warga Palestina dari pusat bantuan tersebut. Mereka menekankan bahwa warga Palestina tersebut tidak bersenjata dan tidak menimbulkan ancaman, tetapi tentara tetap diperintahkan untuk melakukan penembakan.
Seorang tentara Israel menggambarkan lokasi pusat bantuan di Jalur Gaza sebagai “medan perang,” dan menambahkan, “Kami menembak para pencari bantuan seolah-olah mereka adalah musuh.”
Kepada surat kabar itu, dia menekankan bahwa tentara Israel tidak menggunakan cara biasa untuk membubarkan pencari bantuan di Gaza, namun memanfaatkan semua jenis senjata berat, jelasnya.
Seorang tentara menyatakan bahwa “membunuh warga sipil yang mencari bantuan di Gaza telah menjadi kebiasaan tentara Israel,” dan para komandan tidak merasa perlu untuk membenarkan tindakan mereka dalam menembaki warga Palestina.
Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza, sebanyak 549 warga Palestina telah menjadi korban dan lebih dari 4.000 lainnya terluka sejak 27 Mei, di dekat pusat bantuan dan daerah di mana warga menunggu truk makanan.
Sebuah jaringan organisasi nonpemerintah Palestina memperingatkan pada hari Kamis bahwa Israel berusaha untuk mempertahankan kekacauan dan kekerasan di Jalur Gaza dengan mengendalikan distribusi bantuan yang terbatas di tengah situasi yang mereka sebut sebagai genosida yang sedang berlangsung.
Di luar pengawasan PBB dan organisasi internasional, Tel Aviv dan Washington mulai menerapkan rencana pada tanggal 27 Mei untuk menyalurkan bantuan terbatas melalui yang disebut “Yayasan Kemanusiaan Gaza”, yang memaksa warga Palestina yang kelaparan untuk memilih antara mati kelaparan atau ditembak oleh tentara Israel.
Bantuan ini didistribusikan di zona penyangga di bagian selatan Gaza, namun rencana tersebut semakin menunjukkan tanda-tanda kegagalan, karena distribusi sering terhenti akibat masuknya orang-orang yang kelaparan dan tembakan dari militer Israel ke arah kerumunan massa.
