Pengawasan Haji: Ketidakseimbangan Rasio Tenaga Kesehatan dan Jamaah
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI Edy Wuryanto menyoroti ketidakseimbangan jumlah tenaga kesehatan dengan jamaah haji Indonesia yang memerlukan evaluasi agar pelayanan kesehatan dapat lebih optimal.
“Saat ini, rasio tenaga kesehatan terhadap jamaah haji sekitar satu banding 400. Situasi ini sangat tidak ideal dan memerlukan evaluasi ulang. Pelayanan kesehatan terhadap jamaah jadi kurang maksimal,” ungkap Edy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/6/2025).
- Akankah Global March to Gaza Berhasil Usai Armada Madleen Dicegat Zionis?
- Serangan Pembalasan Iran Dimulai, Ratusan Drone Kepung Israel, Netanyahu Kabur
- Dapat Dukungan Dewan, Kampung Haji Indonesia Dinilai Layak Jadi Proyek Danantara
Edy mengungkapkan bahwa sistem pelayanan kesehatan di Arab Saudi yang membatasi aktivitas medis di area hotel jamaah menyebabkan keterlambatan dalam merujuk jamaah yang sakit ke rumah sakit rujukan di Saudi.
Oleh karena itu, Edy menekankan pentingnya pendekatan promotif dan preventif oleh tenaga medis Indonesia di lapangan. Jalur rujukan bagi jamaah haji yang berisiko tinggi harus disiapkan dengan baik.
“Petugas kesehatan kita di masa depan harus lebih fokus pada deteksi dini, pemantauan rutin, dan klasifikasi risiko jamaah. Mana yang berisiko tinggi, sedang, dan rendah,” ujarnya.
Ia juga menyesalkan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Makkah yang sempat tidak beroperasi selama musim haji tahun ini, sehingga jamaah yang memerlukan perawatan medis langsung diarahkan ke rumah sakit Arab Saudi sesuai kebijakan setempat.
Padahal, keberadaan klinik tersebut sangat strategis untuk menjadi titik transit sementara bagi jamaah sebelum dirujuk ke rumah sakit atau setelah keluar dari rumah sakit sebelum kembali ke pemondokan.
