Eksplorasi Urban Mining dan Hilirisasi
Diskusi ini dihadiri oleh dua narasumber dengan latar belakang yang saling melengkapi, mereka mengupas topik ini dari berbagai sudut pandang, mulai dari sains, agama, hingga kebijakan publik, dengan tetap menjaga kedalaman analisis serta kejelasan penyampaian.
Indonesia, sebagai salah satu penghasil nikel terbesar di dunia, menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, nikel adalah komoditas strategis yang dibutuhkan untuk industri baterai kendaraan listrik, stainless steel, dan berbagai produk teknologi masa depan. Namun di sisi lain, eksploitasi besar-besaran tanpa pertimbangan matang dapat mengancam kelestarian lingkungan, terutama di wilayah seperti Raja Ampat yang dikenal sebagai surga keanekaragaman hayati laut.
Mas Aji menjelaskan secara gamblang bahwa meski Indonesia kaya akan nikel, pengelolaannya sering kali tidak maksimal. Bahan mentah lebih banyak diekspor tanpa diolah menjadi produk bernilai tinggi, sementara smelter-smelter yang ada hanya memproduksi nikel dengan kualitas rendah untuk keperluan seperti peralatan rumah tangga, bukan untuk industri baterai yang membutuhkan kemurnian tinggi.
Mas Rizal kemudian menyampaikan pandangan agama terkait isu ini. Ia mengingatkan prinsip dalam Islam yang mengajarkan untuk memanfaatkan alam tanpa berlebihan, yaitu kullu wasrabu wa la tushrifu.
“Alam boleh dimanfaatkan, tetapi harus ada upaya pemulihan. Jika tambang merusak, harus ada rencana restorasi yang jelas,” tegasnya.
Ia juga mengkritik kebijakan-kebijakan yang lebih fokus pada keuntungan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun masyarakat.
