Wamenbud: Museum Sebagai Ujung Tombak Diplomasi Budaya Indonesia
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA – Giring Ganesha Djumaryo, Wakil Menteri Kebudayaan, menyebut bahwa museum merupakan salah satu ujung tombak dalam diplomasi budaya Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikannya ketika bertemu dengan Wakil Menteri Kebudayaan Kerajaan Thailand, Ploy Tanikul.
- Terlibat Korupsi Rugikan Negara Rp 3 Miliar, Dua PNS di Bandung Barat Dihentikan Sementara
- Hujan Deras Empat Hari Berturut-turut di Korsel, 4 Orang Tewas dan 7.000 Mengungsi
- Vitiligo Apakah Menular? Kenali Fakta Seputar Penyakit Kulit Ini
“Budaya merupakan soft power yang bisa memperkuat diplomasi serta membawa nama baik bangsa ke dunia, dan museum memiliki peran penting dalam hal ini,” kata Giring dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Giring juga mengatakan bahwa kedatangan Wakil Menteri Kebudayaan Thailand merupakan simbol eratnya hubungan kedua negara yang telah terjalin lebih dari 75 tahun.
“Merupakan kehormatan besar bagi kami untuk menyambut kehadiran Wakil Menteri Kebudayaan Kerajaan Thailand dan para penari di Museum Nasional Indonesia. Kunjungan ini adalah bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Thailand dan Indonesia, yang menunjukkan persahabatan erat kedua negara melalui budaya,” ujar Wamenbud.
Wamen Ploy Tanikul menyatakan bahwa sebagai negara di kawasan Asia Tenggara, Thailand dan Indonesia memiliki akar budaya yang saling terkait. Akar budaya ini menjadi landasan penting dalam memperkuat pemahaman, menjalin hubungan erat, dan menumbuhkan persahabatan yang kokoh antarbangsa.
“Budaya, sejak lama, telah menjadi kekuatan besar yang membuka jalan bagi kerja sama serta mendekatkan masyarakat kedua negara,” jelasnya.
Menanggapi hal ini, Wamen Giring juga menambahkan bahwa Indonesia dan Thailand adalah negara yang menjadikan kebudayaan sebagai inti dari identitas nasional mereka. Dia menambahkan bahwa kedua negara memiliki Kementerian Kebudayaan tersendiri yang memperhatikan hal ini.
“Saya berharap kerja sama budaya kita akan terus berlanjut di masa depan melalui berbagai aktivitas dan kegiatan,” ucap Wamenbud Giring.
Pada kesempatan ini, Wamen Kebudayaan Thailand mengunjungi beberapa ruang pameran yang tersedia, termasuk Paras Nusantara; Pameran Sunting: Pameran Jejak Perempuan Indonesia Penggerak Perubahan; Pameran Melawan Tanpa Gentar; Pameran Misykat: Cahaya Peradaban Islam Indonesia; Pameran 130 tahun Pithecanthropus Erectus; serta berbagai arca peradaban pra-Islam.
Kunjungan Ploy Tanikul juga didampingi oleh para penari dari Departemen Seni Rupa Thailand yang sebelumnya tampil dalam perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Thailand bertajuk Thai-Indonesian Joint Cultural Performances.
Jika menilik sejarah, hubungan diplomatik Kerajaan Thailand dan Indonesia telah terjalin lebih dari 75 tahun. Hubungan ini bermula pada Abad ke-7 hingga 14, ketika terjadi hubungan dagang dan kerajaan dengan Sriwijaya dan Majapahit. Berlanjut saat Raja Siam (sekarang Thailand), Chulalongkorn atau Rama V, mengunjungi Hindia Belanda pada tahun 1871.
Pada saat itu, Raja Chulalongkorn mengunjungi tangsi, gudang, rumah sakit, dan salah satunya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen atau sekarang dikenal sebagai Museum Nasional Indonesia.
Raja Chulalongkorn memberikan sumbangan yang berguna untuk menjalin persahabatan antara Thailand dan Indonesia, yaitu patung Gajah berbahan perunggu. Patung Gajah yang kini berada di depan museum, menjadi ikon dari Museum Nasional Indonesia sekaligus simbol persahabatan kedua negara.
