Kisah Guru SLB yang Menjemput Siswa Difabel di Pelosok Bandung Barat
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG — Reni merupakan salah satu dari sedikit tenaga pendidik SLB di Indonesia. Guru dari SLB Budi Mulya, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat ini bahkan berani mengambil inisiatif ‘jemput bola’ untuk mengajar anak didiknya yang berada di pelosok desa.
Reni berbagi cerita mengenai perjuangannya dalam mendidik siswa difabel di sekolahnya. Dia menjelaskan bahwa mayoritas siswa difabel di sekolah tersebut berasal dari keluarga kurang mampu.
Karena itu, banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk datang ke sekolah, terutama mereka yang tinggal di pelosok Kecamatan Gununghalu. Jarak yang jauh membuat mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar.
Dalam kondisi ini, Reni dan para guru lainnya memilih untuk menjemput bola dengan mengunjungi para siswa di rumah mereka dan melaksanakan kegiatan belajar di sana. Selain itu, para siswa hanya bersekolah tiga hari dalam seminggu.
“Tantangannya adalah jarak, karena ada orang tua siswa yang tidak mampu, jadi dalam satu pekan mereka hanya bisa hadir tiga hari,” ujar Reni ketika ditemui di acara bakti sosial yang diadakan oleh Petrus Adam Santosa, pemilik Javaretro, di rumah Bhineka, Jalan Hercules, Kota Bandung, Sabtu (14/6/2025).
Di tempatnya mengajar, Reni menyatakan bahwa SLB tersebut memiliki jenjang TK, SD, SMP, dan SMA dengan total siswa mencapai 99 orang. Para siswa tersebut merupakan difabel dengan kondisi tunagrahita, tunadaksa, dan tunanetra.
Meski memiliki keterbatasan, semangat belajar para siswa sangat tinggi. Banyak siswa yang tetap ingin belajar meskipun sedang libur dan ingin berlama-lama di sekolah.
“Semangat mereka tinggi, libur sehari saja ada yang menelepon ingin sekolah, kalau pulang jam 10.00 WIB, mereka masih bertahan di sekolah hingga pulang jam 12.00 WIB,” ungkap Reni.
