BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV
Pemerintahan Benjamin Netanyahu pekan ini memilih untuk tetap bungkam ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan yang mengejutkan bagi Israel. Selain menghindari Tel Aviv, Trump ‘menyakitkan’ hati pemerintah Israel dengan memberi karpet merah kepada Suriah, negeri yang kini dipimpin oleh mantan anggota ISIS, sehingga negara itu kini terbebas dari sanksi internasional.
Keputusan Trump untuk mengabaikan Israel selama kunjungannya ke Timur Tengah ini dianggap sebagai indikasi meningkatnya perhatian pemerintahannya terhadap kesepakatan perdagangan yang menguntungkan dengan negara-negara Teluk.
- Kaji Jejak Intelektual Betawi Abad Ke-19, Naskah Pecenongan Diusulkan Jadi Ikon
- Presiden Suriah Al Sharaa: Dulu Tembaki Prajurit AS, Buronan Mahal, Kini Salami Presiden Amerika
- Diburu Israel Sejak 2000, ‘Si Belut’ Mohammed Sinwar Jago Menghabisi IDF
Bahkan sebelum perjalanan dimulai, Israel sudah dalam situasi tegang karena perundingan AS dengan Iran dan keputusan Trump untuk menghentikan pengeboman terhadap Houthi di Yaman, meskipun kelompok tersebut berniat melanjutkan serangan rudalnya ke Israel.
Pejabat Israel tetap diam ketika Washington menegosiasikan kesepakatan dengan Hamas untuk mengembalikan tawanan Idan Alexander. Sementara itu, Trump mengumumkan berakhirnya sanksi terhadap Suriah dan menyerukan normalisasi hubungan dengan pemerintahan baru di Damaskus. Trump bahkan memuji Al Sharaa sebagai pemimpin yang kuat, berkompeten, dan akan membawa perubahan besar.
Ketika Trump berbicara di Riyadh pada hari Selasa, mengklaim berhasil mencapai perjanjian gencatan senjata dengan Houthi, sirene serangan udara berbunyi di seluruh Israel saat sebuah rudal dari Yaman mendekati wilayah tersebut.
