Etika dalam Melaksanakan Perjalanan Haji ke Tanah Suci
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG — Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi dalam bukunya Fadilah Haji menguraikan beberapa etika haji yang dapat dilakukan oleh jamaah selama menjalankan ibadah. Di antaranya:
1. Segera Laksanakan Haji
Jika Allah SWT telah memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menunaikan ibadah haji wajib atau jika fasilitas dan keperluan untuk menunaikan haji sunnah sudah tersedia, maka segeralah menyempurnakan niat tersebut. Khususnya haji wajib, jangan ditunda karena alasan kecil.
“Karena pada saat itu, syaitan akan menggoda dengan khayalan-khayalan yang tidak berguna dan mengingatkan keperluan yang sebenarnya tidak dibutuhkan saat itu, serta menanamkan was-was di dalam hati,” ujar beliau.
2. Laksanakan Sholat Istikharah
Lakukan sholat istikharah ketika hendak berangkat haji. Bukan untuk hajinya, karena haji adalah amal baik dan tidak perlu untuk diistikharahi. Namun karena perjalanan ini sangat penting dan jalannya penuh risiko, maka lakukanlah istikharah untuk menentukan kapan berangkat, melalui jalur mana, dan bagaimana transportasinya.
Jabir ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan istikharah dengan penuh perhatian seperti perhatian beliau dalam mengajarkan ayat Alquran agar kami hafal. Beliau bersabda, “Jika menghadapi masalah penting, shalatlah dua rakaat kemudian bacalah doa istikharah.”
3. Memahami Persoalan Haji
Ibnu Amirilhaj menulis bahwa penting untuk mengetahui masalah-masalah yang sering muncul sebelum berangkat haji, saat perjalanan, dan ketika menjalankan haji. Rasulullah SAW mewajibkan belajar ilmu kepada setiap orang. Oleh karena itu, penting memahami kewajiban haji, sunah-sunah, serta larangan dan makruh saat haji.
Pengetahuan tentang haji dapat diperoleh melalui membaca beberapa buku. Syekh Maulana merekomendasikan tiga buku yang penting dibaca oleh jamaah haji, yaitu Zubdatul Manasik oleh Maulana Rasyid Ahmad Ganggohi, Ziyaratul Haramain oleh Maulana Asyiq Ilahi, dan Mualimul Hujjaj oleh Maulana Said Ahmad.
4. Niat yang Ikhlas
Jangan berniat untuk pamer atau agar dipanggil dengan gelar haji atau untuk rekreasi. Pergilah haji dengan niat yang tulus semata-mata mencari ridha Allah.
5. Mencari Teman Seiman
Teman yang baik akan mengingatkan kita jika kita lupa melaksanakan suatu amal dan mendorong kita untuk melakukannya. Jika kita malas, ia akan membangkitkan semangat kita. Jika kita takut, ia akan menanamkan keberanian dalam diri kita. Jika kita mengalami kesusahan, ia akan mendorong kita untuk bersabar.
“Jika teman itu seorang alim, maka itu lebih baik karena ia akan membantu kita dengan menjelaskan masalah-masalah terkait haji,” katanya.
6. Memastikan Harta Halal
Carilah harta yang halal dan tidak syubhat untuk membiayai haji. Haji yang dilaksanakan dengan harta haram, baik melalui riba atau mengambil harta orang lain dengan cara zalim, tidak akan diterima, meskipun kewajiban haji telah gugur.
7. Bertaubat
Jika memiliki harta orang lain yang diambil dengan cara zalim, kembalikanlah. Jika pernah menzalimi orang lain, mintalah maaf, terutama kepada orang yang sering berinteraksi dengan kita. Jika memiliki utang, lunasilah terlebih dulu atau siapkan uang untuk membayar utang.
Jika ada amanat orang lain, kembalikan atau serahkan kepada orang terpercaya dengan persetujuan pemilik amanat itu. Pastikan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungan kita, seperti istri dan anak-anak, terpenuhi hingga kita kembali.
