Ulama Ini Menetapkan Tiga Syarat untuk Memimpin Jemaah Haji
BERITA TERBARU INDONESIA, BAGHDAD — Pada suatu hari, sekelompok jemaah datang berziarah kepada Syekh Bisyr Hafi Rah.a. Bisyr bertanya kepada salah satu pemimpin kelompok tersebut. Syekh Bisyr adalah ulama zuhud yang terkenal pada masanya.
“Siapakah kalian?” tanyanya.
Mereka menjawab, “Kami berasal dari Syam dan sedang dalam perjalanan menuju haji,” katanya.
Pemimpin kelompok itu menjelaskan bahwa mereka sengaja datang ke tempat Bisyr untuk menziarahi dan menyampaikan salam. Mendengar hal tersebut, Bisyr merasa terhormat dan berdoa, “Semoga Allah SWT membalas kalian dengan pahala yang paling baik.”
Pemimpin kelompok tersebut juga menyampaikan bahwa keinginan mereka sebenarnya adalah agar Bisyr bersedia menemani perjalanan haji mereka. “Dengan kehadiran Anda di tengah-tengah kami, kami berharap mendapat rahmat,” katanya.
Bisyr enggan untuk bergabung dengan mereka. Namun, setelah mereka berulang kali memintanya, akhirnya ia berkata, “Aku akan pergi bersama kalian dengan tiga syarat,” ujarnya.
Pertama, tidak boleh membawa perbekalan apapun dalam perjalanan ini. Kedua, tidak boleh meminta apapun dari orang lain selama perjalanan. Ketiga, jika ada yang memberikan hadiah kepada kita, kita tidak boleh menerimanya.
Kelompok tersebut menjawab, “Kami bersedia menerima dua syarat pertama bahwa kami tidak akan membawa bekal dan tidak akan meminta-minta kepada orang lain. Namun, kami tidak bisa menolak jika ada yang memberi sesuatu kepada kami.”
Bisyr rah.a berkata, “Jika demikian, kalian melakukan perjalanan dengan mengandalkan persediaan, bukan kepada Allah SWT. Jika syarat ketiga tidak bisa dipenuhi, maka aku tidak dapat menyertai kalian. Tinggalkan aku di sini dan pergilah tanpaku.”
Ia melanjutkan, “Orang miskin yang terbaik ada tiga macam: pertama, mereka tidak meminta, dan jika diberi tanpa meminta, mereka enggan menerimanya. Mereka adalah orang yang bersifat wali,” ujarnya.
Kedua, orang yang tidak meminta, tetapi jika diberi sesuatu tanpa meminta, mereka menerimanya. Untuk orang ini, Allah SWT menyediakan sebuah meja. Ketiga, orang yang jika benar-benar membutuhkan, ia meminta kepada orang lain dan hanya mengambil sedikit untuk memenuhi kebutuhannya.
“Kejujuran mereka menghapuskan perbuatan mereka,” katanya.
