Etika Jamaah Haji Saat Kembali ke Tanah Air
BERITA TERBARU INDONESIA, DEPOK — Jamaah haji yang baru kembali dari Tanah Suci dianjurkan untuk menyediakan hidangan bagi tamu yang datang berkunjung. Ini merupakan salah satu contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.
Sebuah riwayat mencatat bahwa ketika beliau kembali ke Madinah, beliau menyembelih unta atau seekor lembu. (HR Bukhari).
Contoh Lain dari Rasulullah
KH Mohamad Hidayat dalam bukunya Petunjuk Lengkap Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umroh menjelaskan bahwa tindakan ini dapat membangkitkan suasana kegembiraan setelah bepergian. Inilah yang dilakukan oleh Salafus Shalih ketika mereka pulang dari perjalanan.
Pahala yang diperoleh oleh jamaah haji atau umroh bergantung pada seberapa besar komitmen mereka terhadap etika ini. Semakin tinggi komitmen mereka, semakin besar pula pahala yang diperoleh dari menyajikan hidangan bagi tamu.
Jika komitmen rendah, maka balasan kebaikannya pun rendah, katanya.
Memberi Hadiah dan Oleh-oleh
Memberikan hadiah dan oleh-oleh kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan teman sesuai kemampuan juga merupakan tindakan mulia. Hal ini bisa menciptakan suasana bahagia dan menghibur keluarga serta kerabat setelah lama berpisah.
Ini juga dapat menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan keakraban sehingga menghilangkan kebencian dan dendam, katanya.
Fadhl bin Sahl Rahimahullah pernah berkata bahwa tidak ada yang dapat mengubah kebencian menjadi keridhoan, kekerasan menjadi kelembutan, permusuhan menjadi hilang, simpati menjadi datang, dan yang ditakuti menjadi terhindarkan, selain dengan memberikan hadiah.
Menurut KH Mohamad, jamaah haji yang pulang dengan tangan kosong bisa membuat keluarganya kecewa. Seorang penyair berkata:
Jamaah haji tampak tidak dekat dengan kami, mereka datang tanpa membawa sebatang siwak atau terompah, tanpa memberikan sebatang kayu Arab ataupun apapun untuk anak-anak.
Hadiah yang diberikan kepada anak-anak dan keluarga sebaiknya sama rata, tanpa ada yang diistimewakan, katanya.
