Allah Menyebut Orang Ini Sebagai Contoh Hamba yang Penuh Rasa Syukur
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Allah mencintai hamba-Nya yang bersyukur. Hamba yang seperti ini menikmati keadaannya dan terhindar dari sifat serakah.
Bersyukur adalah perasaan berterima kasih dan penghargaan atas segala nikmat atau kebaikan yang diterima, baik dari Tuhan, orang lain, maupun diri sendiri. Dalam konteks agama, bersyukur menjadi bentuk ibadah dan pengakuan atas segala karunia yang diberikan oleh Tuhan.
- Kadek Arel Bersyukur Timnas U-23 Lolos ke Semifinal, Jens Raven tak Pikirkan Lawan di Empat Besar
- Ini Hikmah di Balik Hukum Haramnya Zina
- Alquran Gelari Dajjal dengan Al Masih, Apa Bedanya dengan Nabi Isa?
Syukur diekspresikan melalui beberapa sikap. Pertama, perasaan terima kasih: Merasakan dan menyadari kebaikan atau manfaat yang telah diterima. Kedua, pengakuan: Mengakui bahwa nikmat yang diterima berasal dari Tuhan atau orang lain.
Ketiga, ungkapan: Menyatakan rasa terima kasih secara lisan, tindakan, atau dalam hati. Keempat, penerimaan: Menerima segala sesuatu yang diberikan dengan hati yang lapang, termasuk saat menghadapi kesulitan.
Kelima, tindakan: Menggunakan nikmat yang diterima untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat.
Allah menjelaskan hamba yang bersyukur dalam Surah Al-Isra Ayat 3
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.
Allah menyebut Nabi Nuh dengan sebutan hamba yang banyak bersyukur sebagai dorongan bagi keturunannya agar mereka senantiasa bersyukur kepada Allah.
Ulama penafsir Alquran Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan sebagai berikut:
“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh,” maksudnya “Wahai anak cucu dari orang-orang yang telah Kami beri anugerah dan Kami angkut bersama Nuh.”
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur,” pada ayat ini terkandung keterangan pemuliaan terhadap Nabi Nuh yang berbentuk pujian, lantaran beliau telah menjalankan kewajibannya untuk bersyukur kepada Allah dan telah menyandang sifat tersebut.
(Di dalamnya juga terkandung) anjuran bagi keturunannya untuk menapaki jalan hidup dengan mencontoh beliau dalam bersyukur (kepada Allah), serta (perintah) supaya mereka selalu mengingat nikmat-nikmat Allah bagi mereka tatkala Allah menjadikan mereka tetap bertahan dan menempatkan mereka di bumi sebagai khalifah serta menenggelamkan selain mereka, (kaum yang tidak beriman).
