Generasi Muda dari Keluarga Migran Siap Menyongsong Era Digital
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Era digital kini menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Terlepas dari kesiapan kita, beradaptasi dengan kemajuan teknologi adalah suatu keharusan.
Bagi anak-anak, periode ini membawa tantangan khusus, terutama dalam aspek kesehatan mental, interaksi sosial, dan perkembangan kognitif.
Walaupun teknologi digital menawarkan berbagai manfaat, ada juga dampak negatif yang perlu diwaspadai. Peran orang tua menjadi krusial dalam mendampingi anak-anak untuk memanfaatkan teknologi dengan bijak.
Namun, sekitar 11,2 juta anak di Indonesia kehilangan pendampingan karena orang tua mereka bekerja di luar negeri. Oleh karena itu, intervensi dari pihak luar keluarga inti menjadi penting untuk membantu dan melindungi mereka.
Yuherina Gusman S.I.P, MA, PhD, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Al-Azhar, mengungkapkan bahwa penelitian tim mereka menunjukkan kebanyakan anak-anak ini diasuh oleh nenek atau ayah/ibu yang sulit mengikuti perkembangan teknologi.
Banyak pengasuh hanya fokus pada kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan, namun kurang memperhatikan aspek perhatian, kasih sayang, dan pendampingan untuk masalah yang dihadapi anak-anak, termasuk literasi di era digital.
Oleh karena itu, bekerja sama dengan Taiwan Foundation for Democracy dan Unimig Indonesia, Tim Universitas Al-Azhar mengadakan pelatihan literasi digital untuk anak-anak pekerja migran di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Pelatihan yang diadakan pada 21-22 Juni 2025 ini memberikan materi kepada anak-anak usia 15-18 tahun tentang literasi digital, cara berinteraksi di media sosial dengan aman, dan mengajarkan soft skill untuk memanfaatkan teknologi digital seperti membuat produk digital menggunakan Canva dan Capcut.
Pelatihan ini juga mengajarkan mindful journaling sebagai cara bagi anak-anak untuk mengekspresikan emosi mereka melalui tulisan dan menghindari oversharing di media sosial.
Yuherina menyoroti bahwa pemerintah lebih fokus pada penguatan ekonomi Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan PMI Purna, namun kurang memperhatikan anak-anak PMI yang merupakan generasi penerus bangsa.
Mereka adalah generasi yang perlu diperhatikan demi masa depan Indonesia. Kegiatan ini adalah kontribusi nyata akademisi terhadap permasalahan bangsa.
“Anak-anak PMI selama ini sering kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan negara, sehingga menghadapi berbagai tantangan sosial, psikologis, dan digital,” ujarnya dalam pernyataan Sabtu (28/6/2025).
Pelatihan ini memiliki nilai strategis sebagai perlindungan preventif terhadap ancaman di dunia digital, seperti cyberbullying, eksploitasi daring, kejahatan pencemaran nama baik, ujaran kebencian, pelanggaran kesusilaan, berita palsu, dan pornografi.
Acara ini menghadirkan Azis Malik S.H, M.Sc, Direktur Paham Jakarta, yang berbagi pengetahuan tentang UU ITE dan bagaimana bersosial media dengan aman. Pelatihan ini menampilkan berbagai dampak negatif media sosial yang makin meningkat di kalangan remaja, khususnya anak-anak PMI.
Diharapkan pelatihan ini tidak hanya bermanfaat bagi 50 anak PMI yang hadir, tetapi juga menjadi proyek percontohan untuk pengembangan program serupa oleh pemerintah di tingkat nasional dan lokal, sehingga lebih banyak anak PMI yang dapat dilindungi dan diberdayakan.
