Cara Efektif Mengajarkan Anak Tentang Batasan Tubuh
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap anak membuat orang tua semakin khawatir dan waspada. Apalagi, pelaku sering kali berasal dari orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengajarkan anak tentang batasan tubuh pribadi. Dengan demikian, anak tidak akan mudah membiarkan orang lain menyentuh bagian tubuhnya yang bersifat pribadi.
Mengajarkan Anak Batasan Tubuh Sejak Dini
Psikolog anak Luthfiasari Sekar Fatimah membagikan saran mengenai cara mengajarkan anak mengenal batasan tubuh serta usia ideal untuk memulainya. Ia menekankan bahwa mengajarkan batasan tubuh adalah langkah penting untuk melindungi anak dari kemungkinan kekerasan.
Topik batasan tubuh anak sering kali dianggap tabu oleh beberapa orang tua. Namun, Luthfi menyampaikan bahwa ada usia ideal untuk mengajarkan hal tersebut kepada anak.
“Orang tua tidak perlu khawatir mengenai topik ini. Pada usia 2-3 tahun, anak sudah mulai mengenal konsep diri dan tubuh, sehingga pada usia ini orang tua dapat mulai mengenalkan batasan tubuh sedini mungkin,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima BERITA TERBARU INDONESIA pada Ahad (29/6/2025).
Di usia tersebut, anak mulai menyadari keberadaan tubuhnya sebagai entitas terpisah, sehingga memudahkan mereka untuk menyerap informasi tentang kepemilikan tubuh dan batasan yang melekat padanya. Mengajarkan sejak dini akan membantu menanamkan pemahaman yang kuat dan alami, sehingga anak tumbuh dengan kesadaran penuh terhadap hak atas tubuhnya sendiri.
Empat Cara Mengajarkan Anak Batasan Tubuh
Luthfi membagikan empat cara untuk mengajarkan anak sejak dini mengenai batasan tubuhnya yang tidak boleh disentuh, antara lain:
1. Kenalkan Batasan Tubuh Melalui Cerita
Anak usia dini lebih memahami istilah sederhana dan konkret. Alih-alih menggunakan istilah privasi tubuh yang mungkin terlalu abstrak, orang tua sebaiknya menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti atau melalui media konkret yang dapat mereka bayangkan.
“Dari segi topik, bisa dimulai dengan hal yang sederhana seperti mengenalkan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh. Anak juga dapat diajarkan melalui proses modeling lewat buku cerita yang mengedukasi tentang sentuhan yang boleh dan tidak boleh. Setelah itu, anak dapat belajar melalui sesi role play jika berada di situasi tersebut,” jelas Luthfi.
2. Gunakan Kosakata Netral dan Tepat
Pemilihan kata merupakan aspek penting dalam mengajarkan batasan tubuh pada anak. Sebab, kata membentuk cara pandang mereka terhadap tubuh itu sendiri. Orang tua dapat mulai menggunakan istilah yang benar tanpa harus disamarkan ke bahasa lain yang bisa membingungkan anak atau membuat topik ini terkesan tabu.
“Kita dapat menggunakan istilah yang tepat dan netral, seperti penis atau vagina, tanpa memberikan kesan negatif atau rasa malu. Kita juga bisa mengenalkan unsur privasi secara umum, tidak hanya terbatas pada bagian tubuh tertentu saja,” lanjut Luthfi.
3. Ajarkan Prinsip Dasar Memahami Tubuhnya Sendiri
Dalam memperkenalkan batasan tubuh pribadi, orang tua perlu mengajarkan anak prinsip memahami tubuhnya sendiri. Ini penting untuk menanamkan pada anak bahwa tidak semua orang boleh menyentuhnya, dan mereka memiliki hak penuh atas tubuh mereka.
“Orang tua dapat memberi tahu anak beberapa prinsip berikut: tubuh mereka milik mereka sendiri, tidak semua orang boleh menyentuh mereka, dan mereka boleh berkata ‘tidak’ jika ada seseorang yang menyentuhnya dan melaporkan ke orang dewasa lain yang dipercayai,” kata Luthfi.
4. Jelaskan Perbedaan Sentuhan Aman dan Tidak Nyaman
Menurut Luthfi, penting bagi anak untuk mengetahui bahwa tidak semua sentuhan itu sama. Anak berhak merasa aman dengan tubuhnya sendiri. Membedakan antara sentuhan yang baik dan tidak baik akan membantu anak mengidentifikasi situasi yang berpotensi membahayakan.
“Anak dapat dijelaskan bahwa sentuhan yang baik adalah yang membuatnya merasa nyaman dan terbantu seperti pelukan ibu atau sentuhan yang ditujukan untuk membantu mereka. Sementara sentuhan buruk membuat mereka merasa tidak nyaman, bingung, dan ingin menjauh,” jelasnya.
Pemahaman ini akan menjadi panduan penting bagi anak dalam berinteraksi dengan orang lain, memungkinkan mereka untuk mengenali dan menghindari sentuhan yang membuat mereka merasa tidak aman atau tidak nyaman. Hal ini juga membangun kepercayaan diri anak untuk menyampaikan perasaan mereka kepada orang tua atau orang dewasa terdekat. Dengan menerapkan keempat tips ini, orang tua diharapkan dapat membekali anak dengan pemahaman yang kuat tentang batasan tubuh, yang merupakan fondasi penting untuk keamanan dan kesejahteraan mereka di masa depan.
