Bio Farma Menjelajahi Peluang Internasional Pasca Mundurnya AS dari WHO
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — PT Bio Farma (Persero) mengumumkan akan lebih aktif mencari peluang kolaborasi dengan berbagai negara. Langkah ini diambil setelah Amerika Serikat memutuskan untuk keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dalam pertemuan dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta pada Kamis (8/5/2025), Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menyatakan bahwa perusahaan berencana untuk melakukan penetrasi pasar secara lebih agresif. Salah satu tindakan nyata yang diambil adalah menjalin komunikasi dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi.
“Bulan lalu kami bertemu dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi, dan di sana juga ada perusahaan vaksin Arab Saudi, Arabio, yang ingin bekerja sama dengan kami. Kami akan menjajaki kerja sama untuk beberapa produk, termasuk penjualan dan transfer teknologi,” ujarnya.
Shadiq menyadari bahwa keputusan AS untuk meninggalkan WHO akan berdampak pada hilangnya kontribusi dana sekitar 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 32 triliun bagi organisasi tersebut. Menurutnya, hal ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasokan vaksin global, termasuk bagi Bio Farma.
Ia menjelaskan bahwa kontribusi dana dari negara-negara anggota WHO, termasuk AS, sering kali disalurkan melalui The Vaccine Alliance (GAVI), yang merupakan perpanjangan dari UNICEF dan WHO, yang berperan penting dalam memberikan pesanan kepada produsen vaksin di seluruh dunia.
“Kami akan terdampak karena kebetulan, wakil direktur kami juga menjadi salah satu anggota dewan GAVI. Dalam pertemuan bulan lalu, disebutkan bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, GAVI mengalami kekurangan pendanaan,” ungkap Shadiq.
Ia menyebutkan bahwa kekurangan tersebut bukan hanya akibat keputusan AS, tetapi juga mungkin karena penahanan dana dari negara-negara lain akibat meningkatnya tensi perang dagang global.
Shadiq juga menyatakan bahwa permintaan ekspor vaksin polio buatan Bio Farma cenderung terbatas pada situasi darurat seperti wabah atau pandemi. Hal ini membuat potensi ekspor vaksin tersebut menjadi terbatas dalam kondisi normal.
Pada Januari 2025, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan penarikan AS dari keanggotaan WHO. Pemerintah AS menilai WHO gagal menangani pandemi Covid-19 serta krisis kesehatan lainnya, dan dianggap tidak melakukan reformasi yang diperlukan.
Mereka juga menuduh WHO tidak cukup independen dari pengaruh politik negara-negara anggotanya. Selain itu, AS merasa kontribusi dana yang diminta WHO dari mereka terlalu besar dan tidak seimbang dengan kontribusi dari negara lain.
