Budaya Patriarki Dapat Menimbulkan Kerugian Bagi Pria
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Asisten Koordinator Divisi Reformasi Hukum dan Kebijakan Komnas Perempuan, Adelita Kasih, mengungkapkan bahwa budaya patriarki juga bisa merugikan kaum pria. Salah satu alasannya adalah beban yang harus dipikul.
“Secara teori, patriarki menguntungkan pria atau lebih mementingkan kepentingan pria, tetapi ketika kita membahas tentang pembedaan gender, maka akan ada beban tambahan pada salah satu pihak,” ujarnya pada Kamis (17/7/2025).
Patriarki menempatkan pria sebagai pilar utama kekuasaan dan dominasi dalam beragam aspek kehidupan, termasuk politik, ekonomi, dan keluarga.
Dalam konteks ini, terdapat stereotipe dan ekspektasi dalam masyarakat bahwa pria tidak boleh menampilkan sisi emosional, seperti menangis, dan harus menjadi pencari nafkah utama keluarga.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria menghadapi tekanan yang tinggi untuk memenuhi ekspektasi dari lingkungan dan masyarakat tersebut. Akibatnya, ketika pria gagal memenuhi harapan dan tidak sesuai dengan stereotipe tersebut, timbul perasaan gagal, tidak berdaya, dan sebagainya dalam dirinya.
“Mengapa patriarki juga merugikan pria? Karena beban yang dibebankan kepada pria sangat besar dan tidak semua ekspektasi masyarakat bisa dipenuhi oleh pria,” kata Adelita.
Oleh karena itu, dia menyarankan agar siapapun, termasuk pria, hidup selayaknya manusia biasa, terlepas dari ekspektasi masyarakat. “Saya selalu mengingatkan bahwa kita hanya perlu menjadi manusia. Ketika saya sebagai perempuan, saya bisa mengambil sisi maskulin. Namun, ketika kita membebankan hanya pada satu pihak, itulah yang kadang menjadi masalah,” tuturnya.
