Bukan Jumlah Hewan Qurban yang Diperhatikan Allah, Tetapi Ketakwaannya
BERITA TERBARU INDONESIA, TAIF –Seorang ahli tafsir Alquran sekaligus pengajar di Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Alquran-Pusat Studi Alquran, Dr. Ustaz Muhammad Ulinnuha Husnan menjelaskan bahwa dahulu kala, masyarakat Arab jahiliah melakukan penyembelihan dekat Ka’bah.
Di masa lampau, orang Arab jahiliah percaya bahwa Tuhan memerlukan daging dan darah dari hewan yang disembelih. Oleh karena itu, mereka menyembelih ternak mereka dan mempersembahkan daging serta darahnya.
Setelah hewan disembelih, mereka kemudian melumuri tubuh mereka dan juga Ka’bah dengan darah hewan tersebut. Tradisi ini berlangsung berabad-abad hingga akhirnya Nabi Muhammad SAW datang dan mengoreksi kesalahpahaman tersebut. Bahwa yang diterima Allah dari qurban adalah ketakwaan orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah SWT:
Daging-daging unta dan darahnya itu tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Alquran surat Al Hajj ayat 37).
“Jadi yang diterima oleh Allah bukanlah darah dari hewan yang kalian sembelih. Bukan pula daging dari hewan sembelihan kalian. Yang diterima Allah adalah ketakwaan kalian. Maka bukanlah banyaknya hewan yang kita sembelih, banyaknya daging yang kita berikan, atau darah yang kita tumpahkan, tetapi sejauh mana kita bertakwa kepada Allah SWT,” ungkap ustaz Ulinnuha Husnan dalam sesi Halaqah Tafsir Alquran yang digelar di Masjid Bayt Alquran-Pusat Studi Alquran baru-baru ini.
Lebih lanjut, ustaz Ulinnuha menyatakan bahwa ketika seseorang menyembelih hewan qurban, secara spiritual ia sedang menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya, seperti rakus, sombong, dan tamak. Oleh karena itu, menurut ustaz Ulinnuha, berqurban adalah manifestasi dari keimanan dan ketakwaan seseorang.
