Tantangan Mencari Pekerjaan: Risiko Psikologis yang Mengintai Para Pencari Kerja
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Antrean panjang para pencari kerja di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjadi sorotan di media sosial. Diketahui, sekitar 1.000 orang berkumpul di halaman sebuah toko ritel untuk memperebutkan 50 posisi pekerjaan yang tersedia.
Menanggapi situasi ini, ahli psikologi dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengungkapkan bahwa persaingan kerja yang ketat dapat memberikan dampak signifikan terhadap kondisi psikologis pencari kerja. “Situasi seperti ini jelas memberikan tekanan mental. Setelah melalui proses seleksi dan tidak berhasil, mereka bisa merasa gagal dan tidak berharga,” ucap Rose saat dihubungi BERITA TERBARU INDONESIA pada Selasa (15/7/2025).
- Lamar Kerja Gagal Terus? Mungkin CV Anda Belum Sesuai
- Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Bikin Anak Lebih Percaya Diri
- Muhammadiyah Ingatkan Kebijakan Jangan Asal: Kami Sangat Terpengaruh
Lebih lanjut, banyak pencari kerja mengalami risiko kehilangan semangat setelah mengalami kegagalan berulang kali. Rasa kurang percaya diri dan kecemasan sering kali muncul akibat persaingan yang tidak seimbang.
“Banyak yang mungkin merasa minder, ‘apakah saya bisa bersaing dengan lulusan dari universitas yang lebih baik?’. Kecemasan ini terus berkembang dan mempengaruhi kondisi mental mereka,” tambahnya.
Rose juga menyoroti perubahan besar dalam pasar tenaga kerja, di mana banyak pekerjaan tergantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, menurutnya, penting bagi pencari kerja untuk bisa beradaptasi dan memiliki kemampuan resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.
“Kita tidak bisa hanya bergantung pada kondisi masa lalu. Di zaman sekarang, kita dituntut memiliki daya lenting yang tinggi. Kemampuan untuk bangkit, berpikir kritis, dan kreatif sangat diperlukan,” jelasnya.
Rose juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak sejak dini. Menurutnya, kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh prestasi akademis. Banyak anak memiliki potensi di luar sekolah formal, seperti di bidang seni, musik, atau organisasi.
Jika diarahkan dan diberikan ruang untuk berkembang, potensi tersebut bisa menjadi bekal untuk bertahan dan sukses di masyarakat. Dia juga mengimbau agar orang tua tidak memaksakan pekerjaan kepada anak.
“Pekerjaan terbaik bukan yang menurut orang tua paling aman, tetapi yang sesuai dengan minat dan bakat anak, serta membuat mereka bahagia. Misalnya, menyuruh anak menjadi PNS belum tentu itu yang terbaik bagi mereka,” ujar Prof Rose.
