Cina Meneliti Gletser Laut dari Udara untuk Memantau Dampak Perubahan Iklim
BERITA TERBARU INDONESIA, BEIJING — Cina telah memulai survei udara terhadap gletser laut di Daerah Otonom Xizang guna memetakan pencairan es dan menilai dampaknya terhadap lingkungan. Survei ini dilakukan oleh Pusat Geofisika Udara dan Penginderaan Jauh Sumber Daya Alam Cina (AGRS) dengan bantuan pesawat dan helikopter sebagai bagian dari survei geologi nasional.
Titik pengamatan pertama adalah Gletser Renlongba di Kota Qamdo, yang berada pada ketinggian lebih dari 4.700 meter di atas permukaan laut.
“Gletser laut, atau gletser hangat, memiliki suhu es yang lebih tinggi dan mencair lebih cepat. Pergerakannya juga lebih aktif,” ujar Wang Shanshan, teknisi senior AGRS, seperti dikutip dari laporan media, Rabu (7/5/2025).
Survei udara dilakukan dengan pendekatan multidimensi, menggabungkan observasi dari satelit, udara, dan darat untuk memetakan distribusi, ketebalan, dan volume cadangan es. Peneliti utama AGRS, Xiong Shengqing, mengatakan bahwa data ini penting untuk memprediksi dampak pencairan es terhadap sumber daya air dan ekosistem.
“Dengan data akurat dari lapangan, kita dapat menghitung perubahan gletser secara ilmiah dan menyusun strategi menghadapi perubahan iklim,” jelas Xiong.
Gletser laut, yang merupakan sumber utama air tawar padat, juga memainkan peran penting dalam siklus hidrologi dan stabilitas iklim global. Namun, letaknya yang terpencil dan kondisi yang ekstrem menjadikan studi lapangan sangat menantang.
Xiong mengingatkan bahwa pencairan gletser dapat memicu perubahan signifikan pada keanekaragaman hayati, iklim lokal, dan permukaan laut.
Oleh karena itu, pengamatan sistematis sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan adaptasi dan mitigasi iklim.
