Di Mana Tinggal Setelah Pensiun?
Menjelang senja usia, energi mulai berkurang dan berbagai penyakit usia lanjut, atau Sindrom Geriatri, mulai bermunculan. Masuk angin, pegal, encok, dan kesemutan adalah hal yang biasa. Ada candaan di kalangan lansia bahwa dulu wangi parfum, sekarang beraroma minyak gosok. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah penyakit serius yang membutuhkan biaya besar untuk pengobatan berkepanjangan.
Di saat bersamaan, pendapatan menurun dan anak cucu pun hidup mandiri. Bagi yang memandang pensiun sebagai waktu beristirahat dan menikmati hidup tanpa aktivitas lain, kesepian mungkin mulai terasa setelah waktu berlalu. Beberapa orang menghabiskan hari dengan beribadah, berolahraga, dan tidur, tetapi lama kelamaan merasa hidup kehilangan makna.
Akibatnya, muncul perasaan rendah diri atau sindrom kehilangan kekuasaan, terutama bagi yang pernah memiliki posisi tinggi. Khususnya bagi mereka yang menganggap jabatan adalah sesuatu yang istimewa, merasa lebih dibandingkan orang lain.
Berbagai cara diambil untuk menghadapi masa pensiun. Ada yang membentuk komunitas pensiunan untuk berkumpul dan tertawa bersama. Ada juga yang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah dengan menonton televisi atau menggunakan handphone, sesekali bertemu teman lama.
Beberapa menikmati sisa tabungan dengan berwisata, mengunjungi berbagai provinsi atau bahkan ke luar negeri. Sementara bagi yang berjiwa petualang, mereka menjalani hidup dengan percaya diri, menikmati kesendirian.
Bagi yang memiliki hobi, seperti bersepeda, memancing, offroad, bermain catur, gaplek, golf, atau beternak, mereka melanjutkan kesenangan tersebut setelah pensiun, tergantung pundi-pundi yang tersedia. Ada juga yang menikmati masa pensiun dengan tenang, menerima kehidupan dengan damai.
Contoh kisah, pada tahun 2010 saya berkunjung ke Yogyakarta dan bertemu dengan Bapak Subari Sukardi, mantan sekretaris pribadi gubernur. Beliau memutuskan tinggal di Yogya, meskipun kampung halamannya bukan di sana dan tidak ada anak-anak yang menetap di kota tersebut.
Bapak Subari menjelaskan bahwa banyak mantan kepala daerah dan pensiunan lainnya memilih tinggal di Yogya karena biaya hidup yang murah, dengan uang pensiun yang cukup untuk hidup bersama istri. Dua kali seminggu dapat bermain golf dengan hanya Rp 200 ribu, dan masyarakat Yogya dikenal ramah dan penuh tata krama.
Bagaimana dengan Sumatera Barat? Daerah ini juga dianggap menyenangkan bagi pensiunan karena keindahan alamnya, kehidupan sosial budayanya yang menarik, masyarakatnya yang agamis, dan biaya hidup yang relatif murah.
Beberapa daerah di Sumatera Barat mulai didatangi oleh penduduk dari pulau Jawa, terutama etnis Sunda dan Jawa. Mereka bertani hortikultura karena tanahnya subur dan luas. Apakah Sumatera Barat cocok sebagai tempat tinggal pensiunan?
Saya percaya sangat mungkin, karena potensi itu ada. Jika diasumsikan jumlah perantau Minang dua kali lipat penduduk kampung, maka pensiunan dari perantau juga akan banyak. Mereka adalah mantan pejuang dengan pengalaman yang beragam.
Sejauh ini, tidak banyak perantau Minang yang kembali ke kampung setelah pensiun, karena enggan dicap sebagai orang kalah atau sudah nyaman dengan kehidupan di perantauan. Saya mengenal banyak orang Minang yang hebat dan telah pensiun di luar kampung halaman.
Menurut sebuah artikel, saat ini di China, Jepang, dan beberapa negara Eropa, ada tren anak muda kembali ke desa karena persaingan kerja di kota yang tinggi. Teknologi pertanian yang berkembang membuat pertanian lebih mudah dan efisien.
Sumatera Barat digadang-gadang sebagai daerah menarik bagi pensiunan, terutama Bukittinggi dan sekitarnya, dengan makanan yang enak dan budaya yang unik. Ide ini bisa dieksplorasi lebih lanjut dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Pak Gubernur sering melakukan kunjungan ke provinsi lain untuk bertemu perantau. Pemikiran ini bisa ditawarkan, sehingga perantau tidak lagi dianggap sebagai kalah dan pensiun di kampung menjadi pilihan yang menarik.
Gagasan ini juga bisa menarik minat mereka dari daerah lain yang ingin menikmati Ranah Minang di hari tua.
Jakarta, Mei 2025
