Israel Hanya Izinkan Sembilan Truk Bantuan Memasuki Gaza
BERITA TERBARU INDONESIA, GAZA — Setelah hampir 80 hari di bawah pengepungan ketat, Israel hanya mengizinkan sembilan truk bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Gaza yang berpenduduk sekitar 2,4 juta jiwa. Demikian laporan media Israel pada Senin (19/5/2025).
“Sembilan truk bermuatan bantuan kemanusiaan, termasuk makanan bayi, akan memasuki Gaza melalui Israel dalam beberapa jam ke depan,” ujar Ghassan Alian, Kepala Kantor Koordinasi Kegiatan Pemerintahan di Wilayah (COGAT) milik militer Israel, kepada Radio Angkatan Darat.
- Direktur RS Indonesia di Gaza Minta Pemerintahan Prabowo Tekan Israel Hentikan Serangan
- AS Ancam Tarik Dukungan Jika Israel Teruskan Agresi ke Gaza
- Sejumlah Pemimpin Eropa Kutuk Kejahatan Israel di Jalur Gaza
Radio tersebut juga melaporkan bahwa truk-truk bantuan akan diarahkan ke gudang milik organisasi internasional untuk kemudian didistribusikan kepada warga Palestina. Sejak 2 Maret, Israel menutup seluruh jalur masuk ke Gaza untuk pengiriman makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah di wilayah tersebut, menurut laporan pemerintah, organisasi hak asasi manusia, dan lembaga internasional.
Berdasarkan data Bank Dunia, hampir seluruh populasi Gaza — sekitar 2,4 juta orang — sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan. Kantor Pemimpin Otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, pada Minggu menyatakan bahwa Tel Aviv akan mengizinkan masuknya “jumlah dasar makanan” ke Gaza guna “mencegah terjadinya krisis kelaparan.”
Netanyahu menambahkan bahwa kelaparan dapat “mengancam kelanjutan Operasi Kereta Perang Gideon (Gideon’s Chariot),” yang merujuk pada fase baru serangan darat Israel di wilayah utara dan selatan Gaza.
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, mengutip seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa kebijakan itu bersifat sementara dan diperkirakan hanya berlangsung sekitar satu pekan, hingga pusat distribusi bantuan selesai didirikan — kebanyakan berada di Gaza selatan, berada di bawah pengawasan militer Israel dan dijalankan oleh kontraktor keamanan asal Amerika Serikat.
Sejak Oktober 2023, militer Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza yang telah menewaskan lebih dari 53.300 warga Palestina, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait agresinya di wilayah tersebut.
