Kampus Indonesia Menempati Peringkat Pertama Dunia dalam Manajemen Krisis Menurut WURI
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — LSPR Institute of Communication and Business (LSPR) berhasil mencatat prestasi membanggakan di tingkat internasional. Kampus ini meraih peringkat pertama dunia dalam kategori Manajemen Krisis pada ajang World University Rankings for Innovation (WURI) 2025.
Dr (HC) Prita Kemal Gani MBA, pendiri dan CEO LSPR Institute, menyatakan bahwa pencapaian ini menegaskan bahwa inovasi bukan hanya sebuah slogan, tetapi merupakan bagian integral dari strategi pembelajaran dan kontribusi sosial kampus.
“Sebagai lembaga pendidikan yang menggabungkan pendekatan praktis dan teoritis, LSPR terus membuktikan bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk melindungi kehidupan, menguatkan ketahanan komunitas, dan memberdayakan individu dalam menghadapi tantangan global,” ungkap Prita di Jakarta.
WURI adalah sistem pemeringkatan dunia yang menilai universitas tidak hanya dari reputasi akademis, tetapi juga dari inovasi nyata, dampak sosial, dan kontribusi terhadap tantangan dunia modern. Penilaian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama: inovasi, implementasi, dan dampak program terhadap masyarakat dan institusi.
Prita menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus merancang program yang relevan dan memberikan kontribusi langsung terhadap isu-isu sosial dan tantangan global.
Secara keseluruhan, LSPR menduduki peringkat ke-268 dunia dalam pemeringkatan WURI 2025. Selain menjadi yang terbaik di kategori manajemen krisis, LSPR juga meraih posisi kedua dunia dalam kategori Dukungan dan Keterlibatan Mahasiswa, menandakan perhatian kampus terhadap pengembangan mahasiswa secara holistik.
Sementara itu, untuk kategori Respon Berbasis SDG terhadap Tantangan Global, LSPR berada di peringkat ketiga dunia. Capaian ini menunjukkan komitmen kampus terhadap upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Associate Prof Dr Andre Ikhsano, Rektor LSPR, menyampaikan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga harus menanamkan empati dan kesadaran sosial.
“Kampus harus menjadi ruang terbuka bagi dialog lintas generasi, lintas budaya, dan lintas pemikiran,” kata Andre.
Program yang membawa LSPR ke peringkat satu dunia dalam kategori manajemen krisis adalah peningkatan kapasitas mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim bagi masyarakat adat di Bali. Program serupa juga dilaksanakan di Sukabumi, Jawa Barat.
Dr Muhammad Hidayat, Kepala LSPR Centre for Crisis and Resilience (CCRS), menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk memberdayakan komunitas lokal dalam menghadapi risiko iklim dan bencana secara berkelanjutan.
