Skip to content
logo-Berita-Terkini-Indonesia

BTI

Liputan Berita Terkini Indonesia

Primary Menu
  • Home
  • pemerintahan
  • Politik dan Hukum
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Hak Asasi Manusia
  • Home
  • lingkungan
  • Kebakaran Hutan Besar di Israel Menjadi Bumerang
  • lingkungan

Kebakaran Hutan Besar di Israel Menjadi Bumerang

Dewi Anjani Mei 5, 2025
kebakaran-hutan-dahsyat-israel-ternyata-senjata-makan-tuan

Kebakaran Hutan Besar di Israel Menjadi Bumerang

BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV – Kebakaran hutan besar yang melanda Israel pekan lalu diakui oleh pemerintah Zionis sebagai salah satu yang terbesar sepanjang sejarah. Ternyata, kebakaran tersebut terkait erat dengan kebijakan Israel untuk mengusir penduduk Palestina melalui penghijauan.

Menurut laporan dari Palestine Chronicle, Israel telah melakukan penanaman besar-besaran pohon pinus Eropa, yang bukan tanaman asli wilayah tersebut, sebagai bagian dari upaya untuk membentuk ulang lanskap dan menutupi desa-desa Palestina yang tidak berpenghuni. Ini menyebabkan wilayah tersebut menjadi lebih rentan terhadap kebakaran hutan.

Tidak seperti tanaman asli Mediterania, pohon pinus ini mudah terbakar karena kayu resin dan serasah jarum yang mudah menyala dalam kondisi kering dan panas. Dengan perubahan iklim yang memperburuk gelombang panas dan kekeringan, hutan monokultur ini menjadi bahan bakar yang memicu kebakaran besar dan mengancam ekosistem serta masyarakat setempat.

Proyek penghijauan oleh Israel telah digunakan untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka, termasuk proses pengusiran masyarakat Badui di gurun Naqab. Proyek penanaman pohon ini sebagian besar didanai oleh sumbangan amal dari Amerika Serikat.

Hutan Yatir di Israel, yang terletak di kawasan gurun yang dikenal oleh orang Palestina sebagai Naqab dan oleh orang Israel sebagai Negev, terdiri dari empat juta pohon yang ditanam oleh Dana Nasional Yahudi (JNF) sejak tahun 1960-an. Penanaman ini menjadi bagian dari kampanye jangka panjang yang dilakukan untuk mengenang orang-orang Yahudi di Amerika Serikat dan tempat lainnya.

Namun, seperti dijelaskan oleh +972 Magazine, para pekerja kehutanan JNF didampingi oleh polisi militer Israel yang bersenjatakan peluru karet dan gas air mata untuk mengusir suku Badui, Arab penggembala, dari tanah mereka.

Sejak tahun 1948, pemerintah Israel telah menggunakan ‘penghijauan’ sebagai alat untuk mengusir komunitas Palestina dari tanah mereka dan menyembunyikan jejak komunitas yang telah dihancurkan. Organisasi seperti JNF membantu membiayai operasi tersebut dan mencuci dana kepada kontributor yang tidak menaruh curiga.

Myssana Morany, seorang pengacara di Adalah Legal Center for Arab Minority Rights in Israel, menyatakan bahwa sejak Nakba, penghijauan telah digunakan untuk memfasilitasi pengusiran dan perampasan tanah Palestina. ‘Nakba,’ yang berarti ‘bencana’ dalam bahasa Arab, adalah istilah yang digunakan warga Palestina untuk merujuk pada pengusiran mereka oleh pasukan Zionis pada tahun 1948.

Pengusiran melalui penghijauan oleh Israel memiliki berbagai bentuk. Segera setelah Nakba, Zionis menggunakan pohon untuk menyembunyikan reruntuhan komunitas Palestina dan mencegah mereka yang diusir untuk kembali.

Komunitas Palestina yang tersisa sering kali dikelilingi oleh ‘cagar alam,’ memungkinkan negara untuk menyita tanah pribadi Palestina untuk kepentingan publik sekaligus mencegah pertumbuhan komunitas tersebut di masa depan.

Baru-baru ini, Otoritas Pertanahan Israel dan JNF melakukan penanaman besar-besaran di Naqab, menggusur komunitas Badui seperti Atir, yang penduduknya dianggap ‘pelanggar’ karena tanah mereka kini dianggap sebagai milik negara. Secara keseluruhan, JNF mengklaim telah menanam 250 juta pohon di Israel dan terus meminta sumbangan untuk menanam lebih banyak.

Meskipun JNF memuji manfaat proyek penghijauan seperti revitalisasi tanah dan pencegahan banjir, kritikus yang dikutip oleh Yale School of the Environment menyatakan bahwa Hutan Yatir telah menghancurkan ekosistem yang beragam dan mungkin mempercepat perubahan iklim dengan menahan lebih banyak panas dibandingkan dengan gurun sebelumnya.

Menurut Morany, Masyarakat untuk Perlindungan Alam di Israel, organisasi lingkungan terbesar di Israel, juga berpendapat bahwa proyek penghijauan di Naqab harus dihentikan karena ‘mengancam keanekaragaman hayati yang unik’ di sana.

Continue Reading

Previous: Bareskrim Polri Mengungkap Kasus Pemalsuan Gas LPG 3 Kg
Next: Kapolres Indramayu Memimpin Upacara Korp Rapor Kenaikan Pangkat Pengabdian Personel

Related News

monyet-gemoy-buat-resah-warga-kota-cimahi
  • lingkungan

Monyet Besar Ganggu Warga Kota Cimahi

Dewi Anjani Agustus 11, 2025
truk-terguling-diduga-jadi-penyebab-munculnya-busa-di-sungai-cimeta-2
  • lingkungan

Truk Terguling Diduga Menjadi Sumber Busa di Sungai Cimeta

Siti Nurhaliza Agustus 10, 2025
kapolri-sebut-modifikasi-cuaca-efektif-tekan-karhutla-di-kalbar
  • lingkungan

Kapolri Sampaikan Keberhasilan Modifikasi Cuaca dalam Mengurangi Karhutla di Kalbar

Maya Lestari Agustus 8, 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
auto7slot auto7slot auto7slot

You may have missed

  • Berita

Juru Bicara Gus Yaqut Tanggapi Larangan Bepergian KPK, Berikan 4 Pernyataan

Dewi Anjani Agustus 12, 2025
lewat-gpm-polres-indramayu-jaga-stabilitas-harga-dan-ringankan-beban-masyarakat
  • Berita

Melalui GPM, Polres Indramayu Pertahankan Stabilitas Harga dan Bantu Masyarakat

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
kereta-pelabuhan-dan-terminal-di-sulsel-akan-terhubung-begini-rencana-kemenhub
  • Berita

Integrasi Kereta, Pelabuhan, dan Terminal di Sulsel: Rencana Kemenhub

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
viral-meme-tanah-nganggur-diambil-negara-menteri-nusron-minta-maaf-ini-penjelasan-maksudnya
  • Berita

Meme Tanah Nganggur Jadi Viral, Menteri Nusron Meminta Maaf, Berikut Penjelasannya

Dedi Saputra Agustus 12, 2025
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.