Kegagalan Diplomasi Israel, Menjauhnya Amerika Serikat, dan Keuntungan bagi Hamas
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Diskusi langsung antara Amerika Serikat dan Hamas yang berujung pada kesepakatan untuk membebaskan tawanan Israel-Amerika, Edan Alexander, telah mengejutkan Israel.
Kesepakatan ini mengingatkan pada skenario perundingan sebelumnya antara Amerika Serikat dan kelompok Houthi Ansar Allah di Yaman. Dalam kedua kasus ini, Amerika Serikat bernegosiasi dengan entitas politik non-negara untuk mencapai tujuan tertentu.
Terkait Houthi, perjanjian tersebut berfokus pada mengamankan jalur maritim Amerika Serikat. Sedangkan dengan Hamas, fokusnya adalah pembebasan seorang tawanan berkewarganegaraan Israel.
Dalam konteks ini, kepentingan Israel tidak diprioritaskan. Perjanjian dengan Houthi tidak mencakup penghentian serangan roket ke Israel dan kebebasan navigasi kapal Israel. Sedangkan dengan Hamas, kesepakatan tidak mencakup pembebasan lebih banyak tahanan Israel atau masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Hamas ini bukanlah indikasi tunggal bahwa kepentingan Amerika Serikat lebih diutamakan daripada kepentingan Israel. Sebelumnya, ada pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, posisi Amerika Serikat dalam konflik Suriah, dan preferensi Donald Trump terhadap peran Turki di Suriah dibandingkan Israel.
Israel mengira bahwa kepentingan Amerika Serikat di kawasan ini akan selaras dengan kepentingan mereka, namun terkejut ketika mendapati kepentingan Amerika Serikat mendahului, bahkan bertentangan dengan kepentingan Israel.
Kegagalan dalam kasus ini ada dua, pertama karena ini adalah kedua kalinya pemerintah Amerika Serikat melakukan perundingan dengan Hamas, yang pertama melalui utusan Adam Boller.
