UBS Keluar dari NZBA, Menimbulkan Pertanyaan tentang Komitmen Iklim dalam Sektor Perbankan
BERITA TERBARU INDONESIA, LONDON — Bank terkemuka asal Swiss, UBS, memutuskan untuk meninggalkan koalisi perbankan untuk iklim (NZBA), mengikuti jejak bank besar dari Amerika Serikat dan Inggris seperti Barclays dan HSBC.
Langkah UBS ini memunculkan pertanyaan mengenai masa depan NZBA, sebuah inisiatif yang dibentuk pada tahun 2021 untuk mendukung bank-bank dalam menyesuaikan kebijakan mereka dengan target iklim global, termasuk pendanaan untuk aktivitas ramah lingkungan dan menetapkan target pengurangan emisi.
UBS menyatakan bahwa meskipun NZBA memberikan kerangka kerja yang berharga untuk menetapkan target awal, mereka merasa telah mengembangkan kemampuan dalam menentukan langkah keberlanjutan dan memutuskan untuk keluar.
Tahun ini, bank besar seperti JPMorgan, Citi, Morgan Stanley, Macquarie, dan Bank of Montreal juga meninggalkan NZBA setelah pemerintahan Donald Trump kembali berkuasa dengan kebijakan yang kurang mendukung iklim.
NZBA dibentuk pada tahun 2021 untuk membantu sektor perbankan agar sejalan dengan target global dalam membatasi dampak pemanasan global, termasuk memobilisasi lebih banyak pendanaan dari anggotanya untuk aktivitas ramah lingkungan dan menetapkan target pengurangan emisi.
Pada pekan lalu, Barclays menyatakan bahwa mereka keluar dari koalisi tersebut karena banyaknya bank global yang juga keluar dari NZBA, yang membuatnya tidak lagi menjadi alat yang efektif untuk mendukung sektor perbankan dalam transisi energi. UBS menyatakan, meski NZBA membantu menetapkan kerangka kerja untuk target iklim, mereka merasa sudah mampu membangun kerangka kerja sendiri.
“Kekuatan NZBA terletak pada komitmen bank-bank anggotanya untuk memimpin transisi menuju net zero. Upaya jangka panjang ini membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kepemimpinan sejati untuk tetap berada di jalur, bahkan ketika menghadapi berbagai hambatan,” ungkap juru bicara NZBA dalam pernyataannya, Jumat (8/8/2025).
Pada awal tahun ini, NZBA menghapus beberapa aturan keanggotaan yang lebih ketat untuk mempertahankan para anggotanya. Kelompok ini mengatakan bahwa langkah tersebut mencerminkan lambatnya perubahan di ekonomi riil dan bertujuan untuk menarik minat pemberi pinjaman di pasar negara berkembang. Bulan lalu, UBS mengumumkan pergantian kepala keberlanjutannya, Michael Baldinger, yang menjabat sebagai Chief Sustainability Officer hingga Juli 2025.
Baldinger digantikan oleh Christian Leitz, yang kini menambah gelar CSO ke dalam perannya sebagai kepala tanggung jawab perusahaan dan sejarawan korporat. Strategi dan dampak keberlanjutan UBS Group diawasi oleh Beatriz Martin Jimenez, yang juga duduk di dewan direksi dan turut mengawasi program filantropi bank tersebut.
