Kemampuan Membayar Cicilan Rumah Dimasukkan Sebagai Elemen Dasar dalam Indeks Kebugaran Finansial
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Kemampuan membayar cicilan rumah dianggap sebagai elemen mendasar dalam Financial Fitness Index. Nanda Nandiana, Head of Marketing OCBC Indonesia, menyatakan bahwa membayar cicilan rumah seharusnya menjadi bagian dari prinsip dasar manajemen keuangan yang sehat.
“Sebenarnya kemampuan untuk mencicil atau membayar cicilan rumah itu masuk ke dalam kategori dasar. Jadi, kemampuan membayar pinjaman rumah seharusnya menjadi bagian dari fondasi dalam prinsip manajemen keuangan,” ujarnya saat peluncuran film pendek Kita Usahakan Rumah Itu di Jakarta, awal pekan ini.
- Punya Rumah Bukan Impian Tinggi, Tapi Langkah Dasar Finansial
- Kondisi Ekonomi Kerap Berubah, Anak Muda Didorong Bangun Ketahanan Finansial
- LPS Gelar Festival Finansial untuk Pelajar, Dorong Literasi dan Investasi Sejak Dini
Nanda membandingkan pembelian rumah dengan investasi kripto, yang menurutnya berada pada tahap lebih tinggi dalam piramida kebugaran finansial. “Kalau kita telaah lebih jauh—seperti investasi yang lebih kompleks, misalnya kripto—itu justru masuk ke tahap ketiga, yaitu growth,” jelasnya.
Oleh karena itu, rumah dinilai sebagai fondasi awal dalam membangun kondisi keuangan yang stabil dan bertumbuh. Film pendek yang diluncurkan OCBC menyoroti kesulitan generasi muda dalam membeli rumah, namun tetap menyampaikan optimisme dan motivasi untuk terus berusaha.
Sutradara Yandy Laurens, yang berkontribusi dalam proyek film ini, menggarisbawahi tekanan ekonomi yang dihadapi anak muda saat ini. “(Ibarat) nonton konsernya Sal aja tetap nggak bisa beli rumah. Maksudnya, itu realita yang beneran menggigit. Beneran nyata,” kata Yandy.
Namun, ia menekankan pentingnya menjaga mimpi memiliki rumah. “Karena kalau nggak nyampe, minimal kita bergerak dari tempat kita sekarang. Mulai dari angan-angan,” tuturnya. Ia menambahkan, percakapan sederhana di malam hari bersama istri tentang rumah dan hari tua menjadi pengingat untuk tetap mempertahankan harapan.
Senada, penyanyi Sal Priadi mengatakan bahwa mimpi besar patut diperjuangkan meskipun situasi ekonomi tidak menentu. “Kalau kita punya mimpi besar, kita patut memperjuangkannya, kita patut mengusahakannya. Dan percaya bahwa kita nggak sendirian,” ujarnya.
Sal menganalogikan proses membangun rumah dengan menciptakan lagu. “Kadang pas bikin lagu tuh cuma dari gitar, terus jadi lirik doang. Tapi kita juga butuh produser buat nata aransemennya,” ungkapnya.
Nanda menambahkan, perencanaan keuangan yang tepat bisa membuat mimpi memiliki rumah menjadi lebih realistis. “Dengan perencanaan yang tepat, punya rumah yang tadinya kayak nggak mungkin, jadi mungkin. Bisa,” ujarnya.
