Tingkat Ketimpangan Pengeluaran di Jawa Barat Masih Tinggi
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG — Ketimpangan antara warga dengan pengeluaran tinggi dan rendah atau gini ratio di wilayah Jawa Barat diperkirakan tetap tinggi hingga tahun 2024. Faktor penyebabnya antara lain adalah keragaman masyarakat dan kondisi geografis di Jawa Barat.
Kepala BPS Jawa Barat Darwis Sitorus menjelaskan, gini ratio merupakan ketimpangan pengeluaran antara penduduk dengan pengeluaran terendah dan tertinggi. Pada September 2024, gini ratio di Jawa Barat tercatat 0,248 persen.
“Pada September 2024, angka tersebut termasuk kategori sedang, namun masih di atas rata-rata nasional,” ujar Darwis saat diwawancarai, Jumat (13/6/2025).
Darwis menambahkan, ketimpangan ini disebabkan oleh keragaman penduduk Jawa Barat, yang mencapai 50,7 juta jiwa. Selain itu, secara geografis, wilayah seperti Bekasi, Bogor, dan Kabupaten Bogor berfungsi sebagai penopang ibukota Jakarta.
Di wilayah penyangga tersebut, aktivitas ekonomi tumbuh pesat, dengan banyaknya gedung tinggi dan perusahaan besar. Pengeluaran penduduk di Bekasi dan Karawang lebih tinggi dibandingkan dengan Kota Bandung, menunjukkan dinamika ekonomi yang pesat di Jawa Barat.
“Di kawasan ini, ada penduduk dengan pengeluaran tinggi yang menyebabkan angka gini ratio tinggi,” jelasnya.
Bahkan di kawasan pinggiran Bekasi, banyak warga dengan pengeluaran rendah mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan konsumsi. Darwis menyatakan, kemungkinan besar mereka berada di bawah garis kemiskinan.
“Kami melihat dari kelompok pengeluaran rendah hingga tinggi, yang menyebabkan lebarnya gini ratio di Jawa Barat,” tambahnya.
Darwis menambahkan, jumlah penduduk miskin di Jawa Barat hingga September 2024 mencapai 3,67 juta jiwa. Data penduduk miskin pada Maret 2025 masih dalam tahap pengolahan dan akan diumumkan pada Juli mendatang.
