Cerita Sahabat Nabi Selamat dari Ancaman Pembunuhan
BERITA TERBARU INDONESIA, MADINAH — Ibnu Abid Dun-ya dalam kitab al-Mujaabiin fid Du’aa, yang diriwayatkan oleh al-Hasan dari [Anas bin Malik], mengisahkan: “Ada seorang Sahabat Nabi Muhammad dari kalangan Anshar yang dikenal dengan julukan Abu Mi’laq. Sosok ini dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah, memiliki sifat wara’, dan juga seorang pedagang yang sering melakukan perjalanan dengan menggunakan hartanya sendiri maupun milik orang lain.
Di suatu perjalanan, ia berhadapan dengan seorang perampok bersenjata.
“Tinggalkan semua barang bawaanmu! Sebab, aku akan menghabisimu!” ancam sang perampok.
“Mengapa Anda ingin menghabisi nyawaku? Urusan Anda hanya pada harta,” jawab Abu Mi’laq.
“Hartamu akan menjadi milikku, namun aku juga menginginkan nyawamu!” tegas perampok itu.
“Jika Anda tetap berniat membunuhku, izinkan aku melakukan shalat empat rakaat terlebih dahulu,” pinta Abu Mi’laq.
“Silakan lakukan shalat sesuai keinginanmu,” jawab perampok tersebut.
Abu Mi’laq kemudian berwudhu dan melaksanakan shalat empat rakaat. Di akhir sujudnya, ia memanjatkan doa:
“Wahai Yang Maha Pengasih, Pemilik ‘Arsy yang Mulia, Yang Mahakuasa melakukan apa yang Dia kehendaki; aku memohon kepada-Mu dengan keperkasaan-Mu yang tak terjangkau, kerajaan-Mu yang tak mungkin diraih, dan cahaya-Mu yang memenuhi sudut-sudut ‘Arsy-Mu; lindungilah aku dari kejahatan perampok ini. Wahai Yang Maha Penolong, tolonglah aku. Wahai Yang Maha Penolong, tolonglah aku.” Doa ini ia ulangi tiga kali.
Tiba-tiba, seorang penunggang kuda muncul dengan membawa tombak pendek. Dengan sigap, ia mengarahkan tombak tersebut di antara telinga kudanya. Ketika perampok melihatnya, penunggang kuda itu telah mendekat dan langsung menikam perampok tersebut hingga tewas.
Setelah itu, ia mendekati Abu Mi’laq dan berkata: “Berdirilah.” “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, siapakah Anda? Hari ini Allah telah menyelamatkanku melalui perantaraanmu,” tanya Abu Mi’laq.
Penunggang kuda itu menjawab: “Aku adalah Malaikat dari langit keempat. Ketika Anda mengucapkan doa pertama, aku mendengar suara gemerincing di pintu-pintu langit. Saat Anda mengucapkan doa kedua, terdengar suara gemuruh di kalangan penghuni langit. Kemudian, ketika Anda mengucapkan doa ketiga, dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah doa orang yang tertimpa bencana.’ Aku lalu memohon kepada Allah agar diberi tugas untuk membunuh perampok itu.”
Sumber:
Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya berjudul Ad-Da’ u wa ad- Dawa’ (Terapi Penyakit Hati)
